Rabu, 01 Juli 2020 14:58:03 WIB

Saham Big Caps Bangkit Lebih Cepat dari IHSG, Peluang Reksadana Indeks Saham

Dalam periode 24 Maret-30 Juni 2020, indeks IDX30 menguat 32,27 persen dan LQ45 naik 33,41 persen
Hanum Kusuma Dewi
Ilustrasi saham blue chip yang digambarkan dengan koin blue chip di atas grafik harga saham di koran

Bareksa.com - Pasar saham Indonesia mulai bangkit setelah menyentuh level terendah tahun ini akibat pandemi virus corona Covid-19. Bangkitnya pasar saham Indonesia lebih didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar (large caps atau big caps) sekaligus memiliki kinerja keuangan kuat (blue chips). 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi acuan pasar saham Indonesia, telah bangkit 24,58 persen per 30 Juni 2020, dari level terendah tahun ini yang disentuh pada 24 Maret 2020. 

Ternyata, kebangkitan IHSG lebih banyak ditopang oleh saham-saham big caps yang disukai oleh investor asing. Saham-saham big caps yang sering diperdagangkan bisa terlihat dari sejumlah indeks seperti IDX30 dan LQ45. Selain itu, ada juga indeks SRI-KEHATI yang juga mengutamakan tema lingkungan sebagai kriteria indeksnya.

Dalam periode 24 Maret-30 Juni 2020, indeks IDX30 menguat 32,27 persen dan indeks SRI-KEHATI melesat 31,18 persen, melampaui IHSG. Indeks LQ45, yang berisikan saham-saham paling likuid, juga naik 33,41 persen. 

Hal ini tentu mendongkrak kinerja reksadana indeks yang menggunakan indeks-indeks tersebut sebagai acuan, karena isi portofolionya sama dengan acuannya. Sementara itu, rata-rata reksadana saham yang tercermin dalam indeks reksadana saham Bareksa hanya naik 19,75 persen. 

Grafik Perbandingan IHSG, IDX30, SRI-KEHATI dan Indeks Reksadana Saham

Sumber: Bareksa.com

Meskipun sudah bangkit, IHSG dan saham-saham big caps ini telah turun dalam hingga 25 persen bila dibandingkan dengan level di akhir tahun lalu (year to date). Artinya, harga mereka terdiskon dan valuasinya terbilang cukup murah. 

Syailendra Capital, dalam Market Insight yang disampaikan pada nasabah 29 Juni 2020, menilai bahwa koreksi yang signifikan ini memberikan peluang tersendiri untuk berinvestasi khususnya di saham dengan kapitalisasi besar. Sebab, secara historikal, saham-saham ini selalu mencatatkan kinerja yang cenderung lebih baik dibandingkan indeks secara keseluruhan setelah terjadinya koreksi yang signifikan.

Menurut Syailendra, koreksi IHSG sebesar 22 persen secara YTD telah mendorong valuasi saham-saham large cap Indonesia ke level yang murah. Valuasi indeks MSCI Indonesia Large Cap, yang berisikan saham kapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia, kini bertengger di sekitar level -2 Standar Deviasi 5 tahun atau di level 2,27 kali Price to Book (PB).

Melihat sejarah pasar saham Indonesia pasca periode defisit neraca transaksi berjalan, indeks-indeks large cap Indonesia selalu mencatatkan kinerja yang lebih baik dibanding IHSG dalam setahun setelah terjadinya koreksi signifikan. "Hal ini terutama dapat disebabkan oleh masuknya kembali aliran dana investor asing yang terfokus pada saham-saham large cap dengan liquidity dan fundamental yang masih memadai," tulis riset tersebut.

Bila ingin memiliki saham-saham perusahaan besar dengan kinerja bisnis yang kuat, investor bisa membeli langsung saham large caps yang ada dalam indeks-indeks saham tersebut. Akan tetapi, untuk investor yang tidak bisa selalu memantau pergerakan asetnya, reksadana indeks saham yang mengacu pada indeks saham berkapitalisasi besar juga bisa menjadi pilihan.

Tabel Reksadana Indeks di Bareksa (Return per 24 Maret-24 Juni 2020)

Sumber: Bareksa.com 

Sebagai informasi, reksadana indeks saham adalah reksadana yang meniru portofolio indeks saham acuannya, seperti LQ45, IDX30, MSCI Indonesia dan sebagainya. Reksadana indeks adalah salah satu investasi yang disarankan oleh Warren Buffet, salah satu orang terkaya dunia yang mengumpulkan hartanya dari investasi.

Tujuan dari penerbitan reksadana indeks adalah meniru pergerakan indeks acuannya. Jadi, semakin mirip dengan indeks acuannya, maka reksadana indeks tersebut semakin baik.

Perlu diingat, seperti halnya investasi saham atau reksadana saham, investasi reksadana indeks saham memiliki risiko pergerakan pasar yang cepat. Sehingga, investasi reksadana indeks saham disarankan untuk investor dengan profil risiko agresif yang bisa menerima risiko tinggi (risk taker) serta untuk investasi jangka panjang (di atas lima tahun).

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.