Rabu, 01 Juli 2020 08:26:38 WIB

Berita Hari Ini : Emas Investasi Paling Cuan 2020, OJK Restui Right Issue BBKP

Dampak ke bursa jika PSBB diperketat, susunan komisaris baru BEI
Martina Priyanti
Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (26/6/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras)

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita dan informasi terkait investasi dan ekonomi yang disarikan dari sejumlah media dan keterbukaan informasi, Rabu 1 Juli 2020.

Komisaris BEI

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (30/6/2020) menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang salah satu agenda rapatnya, pengangkatan anggota dewan komisaris untuk masa bakti 2020-2023. "Sekarang sudah sah," ungkap Direktur Utama BEI Inarno Djajadi seperti dikutip Kontan.co.id.

Inarno menjelaskan beberapa nama yang tetap menjabat sebagai komisaris periode baru adalah John A Prestio sebagai Komisaris Utama, mewakili profesional. Selain itu ada juga Mohamaad Noor Rachman, mewakili regulator.

Sementara itu komisaris yang mewakili anggota bursa ada Heru Handayanto dan Karman Pamurahardjo. Sedangkan komisaris yang mewakili perusahaan, tercatat atau emiten ada Pandu Patria Sjahrir. Berikut ini susunan komisaris BEI periode 2020-2023:
Komisaris Utama : John A. Prasetio
Komisrais: Mohammad Noor Rachman Soejoeti
Komisaris: Heru Handayanto
Komisrasi: Karman Pamurahardjo
Komisaris : Pandu Patria Sjahrir

Selain menentukan jajaran komisaris, RUPST BEI juga menyepakati laporan tahunan BEI tahun lalu. Sepanjang 2019, BEI mengantongi pendapatan usaha Rp1,56 triliun, naik 12,4 persen year on year (yoy). Secara keseluruhan, jumlah total pendapatan BEI menjadi Rp1,91 triliun, bertumbuh dari tahun 2018 yang tercatat Rp1,64 triliun.

Sementara laba bersih BEI dibukukan tetap meningkat 67,4 persen year on year (yoy) menjadi Rp445 miliar pada 2019. Di sisi lain beban tercatat 5,3 persen yoy menjadi Rp1,33 triliun sepanjang tahun lalu.

Untuk total asetnya, BEI memiliki aset Rp7,2 triliun atau naik 5,8 persen yoy. Adapun total liabilitas turun 5,78 persen yoy menjadi Rp2,75 triliun. Di sisi lain, ekuitasnya tercatat Rp4,45 triliun atau mengalami kenaikan 14,6 persen yoy.

Sepanjang 2019, BEI mencatatkan transaksi harian hingga 468 ribu transaksi per hari. Sementara dari sisi perusahaan tercatat, BEI telah  memfasilitasi 76 pencatatan efek baru yang terdiri dari 55 emiten.

BEI juga telah melakukan pencatatan terhadap 14 exchange traded fund (ETF), dua efek beragun aset (EBA), dua perusahaan penerbit obligasi baru, dua dana investasi real estat (DIRE), dan satu dana investasi infrastruktur (DINFRA).

Dilihat dari pengembangan investornya, sepanjang tahun 2019 total jumlah investor di pasar modal indonesia mencapai 2,48 juta. Jumlah itu mengalami pertumbuhan 53 persen YoY. Khusus untuk investor saham, jumlahnya tumbuh 30 persen YoY, menjadi mencapai 1,1 juta investor.

"Sampai dengan Mei 2020, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 2,81 juta, dengan investor saham mencapai angka 1,19 juta investor," imbuhnya.

Di tengah kondisi saat ini, Inarno menyampaikan pendapatan bursa tahun ini akan berat. Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) BEI sepanjang bulan Januari hingga Februari saja berada di bawah Rp7 triliun. Padahal, di akhir tahun 2019 saja BEI bisa mencatatkan hingga Rp9,1 triliun.

Sejauh ini BEI telah menempuh beberapa cara, di antaranya efisiensi anggaran, aktif mengawasi pelayanan di bursa, melakukan monitoring secara periodik, akselerasi upaya-upaya digital, dan tetap berkomunikasi dengan para stakeholder.

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan pernyataan efektif terkait pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas atau rights issue kelima (PUT) PT Bank Bukopin Tbk (BBKP). Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, pelaksanaan PUT ini melalui penerbitan saham baru dengan memberikan penawaran Hak Memesan Efek Terbatas Terlebih Dahulu (HMETD) kepada pemegang saham.

"OJK mendukung aksi korporasi PT Bank Bukopin Tbk yang dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan nasabah pada khususnya terhadap pelayanan Bank Bukopin ke depan," kata Anto dalam siaran pers, Selasa (30/6/2020).

Pelaksanaan PUT V sesuai dengan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Bukopin pada 24 Oktober 2019. Dalam prospektus PUT V Bank Bukopin, kedua pemegang saham utama, yaitu PT Bosowa Corporindo dan KB Kookmin Bank Co. Ltd menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan seluruh haknya dalam PUT V. Kookmin Bank bertindak sebagai pembeli siaga yang akan mengambil seluruh sisa saham yang tidak dilaksanakan haknya oleh pemegang saham lainnya.

"Hal ini sesuai dengan rencana Kookmin menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Bukopin Tbk," sebut Anto.

Anto mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan penarikan dana dari PT Bank Bukopin Tbk di luar batas kewajaran. Menarik dana di luar batas kewajaran sangat berpengaruh pada kondisi bank. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk mengabaikan ajakan untuk memindahkan dana dari Bank Bukopin karena berita yang menyesatkan.

"OJK bekerja sama dengan pihak Bareskrim Polri untuk mengusut dan menindak orang yang bermaksud membuat keresahan di masyarakat," pungkas Anto.

PSBB

Masa transisi tahap I Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) dijadwalkan akan segera berakhir. Berdasar Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 563 Tahun 2020, masa transisi PSBB berlaku sejak 5 Juni 2020 hingga 2 Juli mendatang. Jika hasil evaluasi PSBB tahap pertama ini tidak berjalan baik, bukan tidak mungkin PSBB di wilayah Jakarta akan kembali diperketat.

Menanggapi hal ini, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, jika PSBB kembali diperketat, maka IHSG akan kembali terseret. Sebab, seperti PSBB sebelumnya, pasar mengkhawatirkan aktivitas bisnis berjalan terbatas sehingga produktivitas menurun. Ini akan menekan kinerja dunia usaha dan industri.

Akan tetapi, lanjut Reza, sentimen negatif dari pengetatan PSBB itu tidak akan separah sebelumnya. Pelaku pasar diperkirakan sudah bisa melakukan penyesuaian dengan kondisi yang ada.

"Karena pelaku pasar sudah melakukan price-in kondisi saat ini," jelas Reza dilansir Kontan.co.id, Selasa (30/6/2020).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, jika pengetatan PSBB kembali diterapkan, maka IHSG akan cenderung terkoreksi sepanjang Juli 2020, dengan level support 4.750 hingga 4.838. Sementara level resistance-nya di 5.150 hingga 5.214. Reza yakin IHSG tidak akan turun lagi menyentuh di bawah level 4.000 seperti saat Covid-19 ditemukan di Indonesia.

Tidak jauh berbeda, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani berpendapat, jika pengetatan PSBB terjadi maka IHSG akan kembali tertekan. Akan tetapi koreksinya tidak akan sedalam saat PSBB sebelumnya.

Hendriko bilang, sentimen yang justru akan menentukan pergerakan IHSG ke depan adalah seberapa cepat stimulus pemerintah direspons oleh masyarakat.

"Karena jika uncertainty ini berlangsung lama dan stimulus terlambat digelontorkan atau tidak direspons masyarakat, perbaikan ekonomi akan berpotensi berlangsung lebih lama," ungkap Hendriko.

Jika pengetatan PSBB terjadi, IHSG akan bergerak di level 4.500 hingga 4.700 yang merupakan level konsolidasi pada bulan April dan Mei yang lalu. Adapun sektor yang berpotensi mengalami tekanan adalah sektor properti, konstruksi, retail, perbankan dan tambang.

Di sisi lain, jika PSBB semakin dilonggarkan, IHSG akan kembali menguji level 5.000 hingga 5.175 yang merupakan resisten awal. IHSG pun berpotensi kembali menguat mengikuti perkembangan ekonomi apabila semakin membaik.

Sementara, Reza menambahkan, hingga akhir tahun 2020, sebenarnya IHSG berpotensi menyentuh level 5.200 hingga 5.300. Dengan catatan, pelaku pasar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada masyarakat bisa mematuhi protokol kesehatan.

Emas

Sukses naik banyak sepanjang 2020, tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Meski begitu, peluang kenaikan di sisa tahun ini cenderung terbatas atau tidak sesignifikan enam bulan terakhir.

Berdasarkan rangkuman Kontan, diketahui instrumen investasi yang memberikan return tertinggi sepanjang periode Januari-Juni 2020 adalah emas berjangka untuk pengiriman Agustus yang diperdagangkan di Comex mencatatkan kenaikan 16,94 persen dari US$1.523 per ons troi menjadi US$1.781 per ons troi pada Senin (29/6).

Sedangkan emas Antam tercatat naik 5,8 persen dengan harga beli Rp771.000 per gram di akhir 2019 dan harga buyback per Selasa (30/6) Rp814.000 per gram.

Selanjutnya, ada instrumen valuta asing (valas) untuk pasangan EUR/GBP yang mencatatkan kenaikan 7,92 persen per Selasa (30/6) di level 0.9129. Disusul dengan obligasi korporasi yang naik 4,44 persen year to date (ytd) berdasarkan data Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI).

Sebaliknya, mengutip RTI Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jadi instrumen yang mencatatkan penurunan cukup dalam selama periode Januari-Juni 2020, yakni melorot 22,1 persen.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto mengungkapkan selama obat Covid-19 belum ditemukan dan hubungan antara China dan Amerika Serikat (AS) masih memanas, emas bisa jadi pilihan terbaik hingga sisa 2020. Selanjutnya, tinggal menyesuaikan pada profil risiko masing-masing investor.

"Instrumen jawara tampaknya masih dikuasai emas, karena Covid-19 tampaknya belum akan ada penawarnya. Ditambah lagi, tahun ini pasar akan dihadapkan pada pemilu Presiden AS yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian," ungkap Eko kepada Kontan, Selasa (30/6).

Untuk itu, bagi investor tradisional Eko merekomendasikan kepemilikan emas milik Aneka Tambang (Antam). Meskipun tren harga emas tersebut cenderung dikendalikan oleh perusahaan, investor bisa memilih tempat lain untuk melakukan penjualan atau memaksimalkan capital gain.

Sedangkan untuk investor yang memiliki profil sebagai investor modern bisa melakukan trading atau kontrak derivatif saat melirik instrumen investasi emas. Investor jenis tersebut cenderung memiliki risiko lebih tinggi. "Meskipun emas bisa jadi pilihan ke depan, namun kenaikannya tidak akan setinggi semester I-2020," tekan Eko.

Sementara itu, Eko menjelaskan pertumbuhan obligasi korporasi di enam bulan pertama 2020 dikarenakan banyak investor saham yang mengalihkan investasinya ke instrumen obligasi korporasi. Dibandingkan instrumen saham atau properti, investor cenderung melirik obligasi korporasi yang lebih aman dan minim risiko.

"Apalagi, dengan tren suku bunga turun ke depan, prospek obligasi dan emas cenderung positif atau naik di sisa 2020," ujarnya.

Ke depan, Eko lebih merekomendasikan investor untuk melirik instrumen obligasi baik korporasi maupun pemerintah, dengan potensi return sekitar 10 persen. Selain mendapatkan cashflow dari kupon, investor juga bisa mendapatkan capital gain dari instrumen tersebut. Sedangkan untuk emas, meskipun positif, potensi kenaikannya cenderung terbatas.

Untuk investor yang berencana investasi di jangka panjang bisa melirik reksadana saham. "Bisa alokasikan 75 persen ke reksadana pendapatan tetap dan 25  persen bisa ke reksadana saham," jelasnya.

Untuk instrumen valas sendiri, menurut Eko pergerakannya cenderung spekulatif. Naiknya harga EUR/GBP dalam enam bulan terakhir didukung oleh baiknya penanganan Covid-19 di Eropa. Di sisi lain, investor masih menghindari dollar AS dan yen seiring tingginya ketegangan kedua negara yang berpotensi membuat kurs bergerak terlalu volatile.

"Tapi kalau AS dan China berdamai, kemungkinan prospek yen akan lebih menarik ketimbang EUR ke depannya," tandasnya.

(AM)