Kamis, 25 Juni 2020 17:36:52 WIB

Reksadana Saham Untung Hingga 19,7% Sebulan dan 56,9% 3 Bulan, Ini Daftarnya

74 dari 76 produk reksadana saham di Bareksa membukukan return positif sebulan dan 3 bulan
Abdul Malik
CEO Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro, bersama karyawannya memantau pergerakan pasar saham dan IHSG di kantor Manulife Aset Manajemen Indonesia. (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Reksadana saham memang sedang mencatatkan kinerja paling moncer dalam beberapa bulan terakhir, setelah tertekan beberapa waktu lalu akibat sentimen dampak pandemi Covid-19. Cemerlangnya kinerja reksadana saham seiring tren penguatan di pasar saham yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan daftar reksadana yang dijual di Bareksa, sebanyak 74 dari 76 reksadana saham membukukan return positif. Hanya 1 produk reksadana saham yang stagnan dan 1 negatif. Top 10 reksadana return tertinggi sebulan (per 24 Juni 2020) mencetak keuntungan 14,96 persen hingga 19,78 persen.

Posisi pertama ditempati reksadana saham kelolaan Manulife Aset Manajemen Indonesia yakni Manulife Greater Indonesia Fund dengan return 19,78 persen. Posisi kedua hingga kelima ditempati Dana Pratama Ekuitas return 17,29 persen, BNP Paribas Infrastruktur Plus (17,19 persen), Pratama Saham (16,84 persen) dan Prospera BUMN Growth Fund (15,86 persen).

Posisi keenam hingga kesepuluh yakni Semesta Dana Saham return 15,75 persen, Manulife Saham SMC Plus (15,7 persen), Prospera Saham SMC (15,65 persen), BNI-AM Inspiring Equity Fund (14,96 persen) dan Sucorinvest Equity Fund (14,96 persen).

Top 10 Reksadana Saham Return Tertinggi Sebulan (per 24 Juni 2020)


Sumber : Bareksa

Untuk diketahui, beberapa produk reksadana saham berada di level terendahnya tahun ini pada Maret 2020. Reksadana saham Manulife Greater Indonesia Fund misalnya berada di harga nilai aktiva bersih (NAB) pada 24 Maret 2020 akibat tekanan pasar modal terdampak sentimen pandemi Covid-19.


Sumber : Bareksa

Tidak berbeda harga NAB Dana Pratama Ekuitas juga berada di level terendahnya pada 24 Maret 2020 atau tiga bulan lalu.


Sumber : Bareksa

Nilai NAB tersebut berangsur naik dan bangkit hingga saat ini seiring tekanan pasar modal yang mulai mereda. Meski begitu nilai NAB tersebut memang belum bisa menyamai level setahun lalu. 

Kinerja 3 Bulan

Dalam jangka waktu 3 bulan terakhir (per 24 Juni 2020), top 10 reksadana di Bareksa berhasil membukukan imbal hasil 36,57 persen hingga 56,9 persen. Posisi pertama kembali ditempati Manulife Greater Indonesia Fund dengan return 56,9 persen.

Posisi kedua dan seterusnya ditempati Manulife Saham SMC Plus return 48,3 persen, BNP Paribas Solaris (46,84 persen), MNC Dana Syariah Ekuitas (42,2 persen), Reksa Dana Capital Optimal Equity (40,04 persen), TRIM Syariah Saham (39,55 persen), Semesta Dana Saham (38,15 persen), Shinhan Equity Growth (37,64 persen), BNI-AM Inspiring Equity Fund (37,27 persen), serta Syailendra Sharia Equity Fund (36,57 persen).

Top 10 Reksadana Saham Return Tertinggi 3 Bulan (per 24 Juni 2020)


Sumber : Bareksa

Sama halnya dengan kinerja sebulan, dalam jangka waktu 3 bulan terakhir juga 74 dari 76 produk reksadana saham membukukan return positif. Hanya 1 produk yang mencatatkan kinerja stagnan dan 1 lainnya negatif.

Reksadana ialah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Reksadana juga diartikan, sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi.

Sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Reksadana memberikan imbal hasil (return) dari pertumbuhan nilai aset-aset yang ada dalam portofolionya. Imbal hasil ini potensinya lebih tinggi dibandingkan dengan deposito atau tabungan bank.

Sebaiknya, jenis reksadana yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter kita apakah seorang high-risk taker, medium-risk taker atau low-risk taker. Jika kita kurang berani untuk mengambil risiko rugi, bisa memilih reksadana pasar uang.

Namun, jika kita cukup berani tapi masih jaga-jaga untuk tidak terlalu rugi, bisa coba fixed income (reksadana pendapatan tetap) atau balanced (reksadana campuran). Sementara jika kita cukup berani ambil risiko, bisa berinvestasi di reksadana saham (equity).

Selalu sesuaikan instrumen investasi dengan profil risiko dan target investasi kamu.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.