Rabu, 17 Juni 2020 10:14:02 WIB

Kinerja Obligasi Lebih Baik dari Saham? Ini Penilaian Schroders & Commonwealth

Michael mengaku melakukan investasi di pasar saham secara bertahap dengan tujuan tetap untuk jangka panjang
Martina Priyanti
Direktur Utama PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi berbincang dengan wartawan di Jakarta, Rabu (18/10). (Bareksa)

Bareksa.com - PT Schroder Investment Management Indonesia bersama PT Bank Commonwealth menyampaikan outlook investasi dalam kondisi kenormalan baru, pada Selasa (16/6)/2020. Mereka menilai pada tahun ini, pasar obligasi akan berkinerja lebih baik dibanding pasar saham.

Presiden Direktur Schroders Indonesia, Michael T. Tjoajadi menyampaikan efek pandemi Covid-19 yang menghantam pertumbuhan ekonomi global, membuat para bank sentral dunia gencar merelaksasi kebijakan moneter dan memberikan stimulus fikal yang masif. "Stimulus akan banyak mengalir tren suku bunga akan bergerak menurun," ujarnya seperti dilansir Kontan.

Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah memperoleh pendanaan karena tingkat suku bunga akan cenderung menurun. Di tengah penurunan suku bunga ini, Michael berharap kinerja di pasar obligasi akan lebih baik di tahun ini dibanding pasar saham.

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth, Ivan Jaya menilai fundamental Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika krisis di 2008 maupun 1998. Ia memberikan contoh, inflasi saat ini stabil dan terjaga rendah di kisaran 3 persen, sementara di 2008 inflasi naik 12 persen dan pada 1998 inflasi naik 82 persen.

Selain itu, cadangan devisa saat ini juga jauh lebih besar dan mampu dijadikan amunisi untuk menjaga kestabilan rupiah. Ivan mencatat, cadangan devisa Indonesia per Mei US$130,5 miliar. Sementara cadangan devisa pada 2008 US$50 miliar dan 1998 US$17 miliar.


Sumber: BI

Melirik Indonesia

Ivan menilai kondisi fundamental Indonesia yang cukup baik tersebut membuat para investor asing akan kembali melirik Indonesia sebagai salah satu negara emerging market yang menjadi tujuan investasi.

Terlebih, pasar obligasi Indonesia saat ini menawarkan tingkat real yield yang cukup atraktif jika dibandingkan dengan negara emerging market lainnya yakni di sekitar 5,16 persen.

Di sisi lain untuk pasar saham, Michael mengamati kenaikan pasar saham belakangan ini terjadi karena pelaku pasar mulai mengantisipasi dan menempatkan posisi pada sektor yang mereka anggap akan membaik di tengah kondisi kenormalan baru.

Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini memang masih terbuka untuk terkoreksi hingga 5,4 persen dan tahun depan bisa tumbuh signifikan ke 5,3 persen.

Dengan begitu, ia menilai, sejatinya pertumbuhan pasar saham Indonesia berpotensi membaik di 2021. "Pasar saham akan ikut pulih di 2021 sejalan dengan pemulihan ekonomi global, tetapi pasar modal selalu beraksi 6 bulan lebih awal, seperti saat ini makanya pasar modal mulai pick up," kata Michael.

Hanya saja, dalam perjalan ke 2021, volatilitas pasar saham dinilai masih tetap tinggi bergantung pada efek stimulus dan perkembangan jumlah pasien positif korona. Michael mengaku melakukan investasi di pasar saham secara bertahap dengan tujuan tetap untuk jangka panjang.

(AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.