Selasa, 16 Juni 2020 09:41:13 WIB

Berita Hari Ini : ULN April US$400,2 Miliar, Penormalan Transaksi Bursa Dibahas

Neraca dagang Mei surplus US$2,09 miliar, harga emas Selasa pagi naik, kinerja reksadana indeks moncer
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat dibukanya perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (26/5/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 16 Juni 2020 :

Utang Luar Negeri

Bank Indonesia mengumumkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2020 terkendali dengan struktur yang sehat. ULN Indonesia pada akhir April 2020 tercatat US$400,2 miliar, terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) US$192,4 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) US$207,8 miliar. ULN Indonesia pada April tumbuh 2,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2020 yang sebesar 0,6 persen (yoy). Hal itu disebabkan oleh peningkatan ULN publik di tengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta.

ULN pemerintah meningkat, setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi. Posisi ULN pemerintah pada akhir April 2020 tercatat US$189,7 miliar atau tumbuh 1,6 persen (yoy), berbalik dari kondisi bulan sebelumnya yang terkontraksi 3,6 persen (yoy). Perkembangan itu dipengaruhi oleh arus modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), dan penerbitan global bonds pemerintah sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pembiayaan, termasuk dalam rangka penanganan wabah COVID-19.

"Pengelolaan ULN pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas yang saat ini dititikberatkan pada upaya penanganan wabah COVID-19 dan stimulus ekonomi," ujar BI dalam keterangannya (15/6/2020).

Sektor prioritas tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,3 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (16,2 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,8 persen), dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6 persen).

Tren perlambatan ULN swasta masih berlanjut. ULN swasta pada akhir April 2020 tumbuh 4,2 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 4,7 persen (yoy). Perkembangan ini disebabkan oleh makin dalamnya kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan di tengah stabilnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan.

Pada akhir April 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi 4,8 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya 2,4 persen (yoy). Sementara itu, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sedikit meningkat dari 7 persen (yoy) pada Maret 2020 menjadi 7,3 persen (yoy) pada April 2020. Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,4 persen dari total ULN swasta adalah sektor jasa keuangan & asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), sektor pertambangan & penggalian, dan sektor industri pengolahan.

Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2020 sebesar 36,5 persen, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya 34,6 persen. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,9 persen dari total ULN.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ungkap BI.

Neraca Dagang

Neraca perdagangan Indonesia Mei 2020 mencatat surplus US$2,09 miliar, setelah pada bulan sebelumnya defisit US$372,1 juta. Berdasarkan komponen, surplus tersebut terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas dan perbaikan defisit neraca perdagangan migas.

Dengan perkembangan tersebut, menurut Bank Indonesia, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei 2020 mencatat surplus US$4,31 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat defisit US$2,68 miliar.

"Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan," ujar BI dalam keterangannya (15/6/2020).

Neraca perdagangan nonmigas Mei 2020 mencatat surplus US$2,10 miliar, berbalik dari capaian bulan sebelumnya yang defisit US$81,7 juta. Perkembangan itu dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas sejalan dengan permintaan domestik yang melemah akibat merebaknya dampak COVID-19. Penurunan impor nonmigas terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang.

Sementara itu, ekspor nonmigas menurun sejalan dengan pertumbuhan ekonomi global yang juga melambat, meskipun beberapa komoditas seperti emas, serta besi dan baja membaik. Adapun neraca perdagangan migas pada Mei 2020 mencatat defisit US$5,4 juta, lebih rendah dari defisit pada bulan sebelumnya US$290,4 juta. Perbaikan defisit ini dipengaruhi penurunan impor migas sejalan dengan penurunan permintaan minyak mentah dan hasil minyak, dan peningkatan ekspor migas, terutama pertambangan gas.

Transaksi Bursa

Pemerintah telah menetapkan skenario kenormalan baru (new normal) pada 5 Juni 2020. Masa pembatasan sosial di beberapa wilayah pun akan segera berakhir. Di DKI Jakarta misalnya, masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap pertama akan berakhir pada 18 Juni 2020 mendatang.

Meski begitu, aktivitas perdagangan di bursa saham belum sepenuhnya normal. Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menerapkan kebijakan yang dikeluarkan untuk menjaga kestabilan di tengah volatilitas pasar keuangan akibat pandemi Covid-19.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI sebelumnya telah memutuskan sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar sejak terjadinya pandemi Covid-19 di Tanah Air. Kebijakan ini antara lain yakni pelarangan short selling untuk sementara waktu, pemberlakuan asymmetric auto rejection dengan batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7 persen, hingga pemberlakuan perdagangan (trading halt) selama 30 menit jika terjadi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 5 persen.

Otoritas juga meniadakan perdagangan di sesi pre-opening dan memperbolehkan emiten melakukan pembelian kembali (buyback) saham tanpa melalui persetujuan rapat umum pemegang saham atau RUPS. Selain itu, jam perdagangan di bursa juga dipersingkat. Saat ini, jam perdagangan BEI pada sesi pertama berlangsung dari pukul 09.00 WIB-11.30 WIB. Sementara sesi kedua berlanjut dari pukul 13.30 WIB–15.00 WIB.

Lantas, kapan perdagangan bursa kembali ke kondisi normal? Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, saat ini pihaknya tengah berdiskusi dengan OJK terkait dengan penormalan aturan penanganan pasar modal saat Covid-19 seperti pelarangan short sell, ARB, hingga trading halt. Sementara untuk penormalan jam perdagangan bursa, BEI akan mengikuti kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait jam kliring.

Tanpa menyebut target waktu secara gamblang, Laksono mengatakan penormalan di bursa akan dilakukan setelah adanya pertemuan dengan OJK. “Target (penormalan) setelah diskusi dengan OJK,“ ujar Laksono dilansir Kontan.co.id, Senin (15/6).

Harga Emas

Harga emas melemah pada Senin (15/6/2020), gagal mendapatkan dukungan dari dolar AS yang lebih lemah, dan tertekan aksi jual yang mulai terbentuk di pasar global yang terguncang oleh kekhawatiran meningkatnya kasus corona. Emas berjangka Comex kontrak Agustus terakhir turun ke level US$1.704,48 per troy ounce. Emas spot juga terkoreksi 0,2 persen menuju US$1.726,52 per troy ounce.

Pada perdagangan Selasa (16/6/2020) pukul 05.26 WIB, emas spot naik 0,15 persen menjadi US$1.727,78 per troy ounce. Adapun, emas Comex meningkat 0,43 persen menuju US$1.734,6 per troy ounce.

Dilansir Bisnis.com, Monex Investindo Futures dalam laporannya menuliskan beberapa pelaku pasar mengatakan penurunan pada harga emas mungkin menandakan kegelisahan investor, di tengah dolar AS yang gagal menguat dan penurunan selera aset risiko di Wall street yang mungkin bersifat sementara. Pedagang tampak lebih fokus pada prospek bearish dari penurunan permintaan konsumen untuk logam mulia karena ekonomi tertatih-tatih.

Peningkatan aktivitas bisnis di negara bagian New York pada Juni setelah dua bulan mencatat kontraksi, juga mungkin menciptakan beberapa tantangan bagi logam mulia. Meski begitu, kasus corona virus yang dilaporkan kembali meningkat berpotensi memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini berpeluang menopang kenaikan harga emas.

Reksadana Indeks

Kendati total dana kelolaan industri reksadana menyusut pada Mei 2020, jumlah unit penyertaan reksadana tercatat naik. Hal ini menjadi salah satu indikator pemulihan kinerja reksadana.

Berdasarkan data Infovesta Utama, dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksadana mengalami penurunan tipis 0,21 persen secara bulanan menjadi Rp496,3 Triliun pada Mei 2020. Di sisi lain, jumlah unit penyertaan (UP) industri reksa dana secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen.

Di sisi lain, reksadana indeks mencatatkan kenaikan dana kelolaan tertinggi mencapai 3,52 persen secara bulanan atau setara Rp238,23 miliar. Seiring dengan itu, unit penyertaannya juga tercatat naik 1,73 persen.

Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat minat investor terhadap reksadana berbasis indeks masih tinggi meskipun imbal hasilnya tengah terkoreksi akibat terseret volatilitas pasar selama beberapa bulan belakangan ini.

Dia menilai masih ada investor yang melihat kondisi saat ini sebagai momentum yang tepat untuk masuk ke reksadana saham karena valuasinya sudah sangat murah. Adapun, reksadana berbasis indeks menjadi pilihan karena cenderung lebih aman.

Memilih reksadana indeks, kata Wawan, dapat menghilangkan atau mengurangi risiko kinerja produk tidak sejalan dengan pasar. Apalagi kebanyakan produk yang ada mengacu pada indeks yang beranggotakan saham blue chip.

“Asumsinya, kalau indeks naik dia [produk reksa dana indeks] akan ikut naik, sedangkan produk reksa dana saham yang konvensional kan tidak tentu karena portofolionya beragam,” jelas Wawan saat dilansir Bisnis (15/6/2020).

Dengan alasan itu pula, Wawan menyarankan investor yang ingin masuk ke saham saat ini untuk memilih reksa dana berbasis indeks saham, terutama untuk investor yang memiliki rencana investasi jangka panjang.

Sementara untuk investor jangka pendek dia lebih merekomendasikan reksa dana pasar uang dan untuk investor jangka menengah Wawan menyarankan produk reksa dana berbasis obligasi negara.

(*)