Rabu, 10 Juni 2020 17:18:14 WIB

Valuasi Pasar Menarik, Reksadana Saham Bisa Dilirik?

Investor asing masuk kembali ke pasar saham dengan inflow Rp8,03 triliun sepanjang Mei
Hanum Kusuma Dewi
P/E ratio IHSG diperkirakan sekitar 14,69 kali pada tahun ini, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata negara ASEAN di 17,03 kali. Sementara P/BV ratio IHSG di 1,65 kali, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata ASEAN yang sebesar 1,38 kali. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bareksa.com - Pasar saham Tanah Air sepanjang Mei 2020 sudah mengalami penguatan. Setelah menyentuh level terendah sejak 2012 seiring dengan pandemi virus corona Covid-19, valuasi pasar saham Indonesia bisa dibilang menarik bagi investor.

Sepanjang Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi acuan pasar modal Indonesia terpantau naik tipis 0,7 persen, melanjutkan kenaikan 3,9 persen pada sebulan sebelumnya. Hal ini seiring dengan pasar saham global baik di Amerika Serikat, Eropa, dan regional ASEAN.

Meskipun demikian, kinerja IHSG bila dilihat sejak awal tahun masih negatif, dengan penurunan sebesar 24,54 persen hingga akhir Mei 2020.

Dana investor asing pun terpantau mulai masuk kembali ke pasar saham Indonesia, dengan nilai inflow sebesar Rp8,03 triliun sepanjang Mei 2020, menurut data Bursa Efek Indonesia. Maka, nilai dana keluar atau outflow asing sepanjang tahun berjalan menciut menjadi tinggal sekitar Rp7,56 triliun (YTD per 29 Mei 2020).

Grafik Pergerakan Dana Asing dan IHSG YTD 29 Mei 2020

Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah Bareksa.com

Riset Syailendra Capital Juni 2020, yang telah dibagikan kepada nasabahnya, menyampaikan bahwa valuasi IHSG menarik bila dibandingkan dengan indeks saham di sejumlah negara lain. Hal ini bisa terlihat dari perkiraan Rasio harga terhadap laba per saham (P/E ratio) dan rasio harga terhadap nilai buku (P/BV ratio).

P/E ratio IHSG diperkirakan sekitar 14,69 kali pada tahun ini, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata negara ASEAN di 17,03 kali. Sementara P/BV ratio IHSG di 1,65 kali, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata ASEAN yang sebesar 1,38 kali.

Namun, nilai return on equity (ROE) atau tingkat pengembalian ekuitas yang dihitung dari laba bersih berbanding terhadap modal (ekuitas) IHSG terbilang tinggi. ROE IHSG pada 2020 diperkirakan di level 14,05 persen dibandingkan rata-rata indeks ASEAN di 8,94 persen.

Riset Syailendra menilai penurunan pasar saham yang cukup dalam akibat kekhawatiran investor terhadap dampak virus corona menyebabkan valuasi saham menjadi menarik dengan mempertimbangkan pertumbuhan jangka menengah. "Penurunan bersifat sementara, karena tidak adanya perubahan secara fundamental terhadap perekonomian Indonesia secara jangka panjang."

Argumen lain yang bisa mendorong pasar saham Indonesia adalah kebijakan pemerintah dalam pemberian stimulus dapat membantu perekonomian dalam waktu dekat. Di saat yang bersamaan, Pemerintahan presiden Jokowi tetap berencana untuk memunculkan reformasi guna menarik investasi asing, seperti omnibus law perpajakan dan reformasi lapangan kerja.

Kemudian, Syailendra juga melihat posisi investor asing yang relatif minim dalam 3 tahun terakhir dan valuasi yang sangat atraktif harusnya mengundang investor untuk kembali ke pasar saham Indonesia.

"Kami melihat baik di level global ataupun domestik terdapat perbaikan dari sisi sentimen investor atas ketidakpastian dan recovery laba atas beberapa sektor. Hal ini selayaknya dapat memberikan support bagi IHSG," tulis riset tersebut.

Di sisi lain, argumen yang menentang pasar saham saat ini adalah dampak virus corona COvid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi global dan domestik masih belum bisa dipastikan besarnya, tetapi dipastikan negatif. Risiko penyebaran Covid-19 yang berkepanjangan dapat mengakibatkan dampak ekonomi yang lebih besar daripada ekspektasi pasar.

Riset tersebut juga menimbang pemerintah mempunyai andil besar di tahun 2020 baik dari kebijakan stimulus ekonomi dan rencana reformasi pemerintahan. Adapun kompensasi dari stimulus yang dilakukan mengakibatkan tingkat utang Indonesia meningkat, yang dapat menjadi beban setelah beberapa periode kedepan seperti keluarnya dana dari perbankan dan meningkatnya instrumen cukai/pajak ke depan. Sehingga, pemulihan  beberapa sektor dapat di bawah ekspektasi pasar.

Syailendra mengasumsikan pertumbuhan laba dari emiten-emiten di pasar saham sepanjang tahun 2020 di kisaran 0-3 persen, dengan P/E di kisaran 13-15 kali. Target IHSG tahun ini di kisaran 5.300-5.700.

IHSG menjadi acuan bagi pasar modal Indonesia, termasuk mereka yang memilih investasi saham dan reksadana saham. Maka, investor dengan tujuan jangka panjang bisa mempertimbangkan momen ini untuk membeli reksadana saham atau reksadana indeks saham.

Akan tetapi, perlu diingat ada risiko ketidakpastian kapan pasar akan kembali bangkit. Sehingga, investasi saham atau reksadana saham disarankan untuk investor dengan profil risiko agresif yang bisa menerima risiko tinggi (risk taker) serta untuk investasi jangka panjang (di atas lima tahun).

Sebagai informasi, reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola oleh manajer investasi untuk dimasukkan ke dalam aset-aset keuangan. Adapun reksadana saham mayoritas portofolionya adalah saham, yang berisiko fluktuatif dalam jangka pendek tetapi berpotensi imbal hasil tinggi dalam jangka panjang.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.