Selasa, 09 Juni 2020 10:19:37 WIB

Kinerja Reksadana Masih Tertekan Sentimen Covid-19? Ini Kata Manajer Investasi

MI optimistis pembelian reksadana akan kembali naik seiring pasar yang terus reli, mendorong kepercayaan investor
Martina Priyanti
Ilustrasi investor yang memakai masker memantau perkembangan investasinya di reksadana di tengah pandemi Covid-19

Bareksa.com - Industri reksadana disebut-sebut masih tertekan dampak pandemi virus corona (Covid-19). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir Mei 2020 seperti dikutip Bisnis.com menyebutkan, unit penyertaan reksadana turun menjadi 405,71 miliar unit, dari sebelumnya pada posisi 408,65 miliar unit di April 2020.

Penurunan juga nampak pada jumlah transaksi yang terjadi sepanjang periode yang sama. Jumlah pembelian atau subscription reksadana sepanjang Mei 2020 tercatat  Rp29,11 triliun, turun dibandingkan April 2020 yang mencapai Rp36,91 triliun.

Di sisi lain penarikan atau redemption juga ikut menurun, menjadi Rp33,01 triliun dari semula Rp36,07. Jika dilihat berdasarkan data tersebut, pada Mei terjadi net redemption Rp3,89 triliun.

Direktur Utama BNI Asset Management, Reita Farianti menyampaikan pada saat ini investor cenderung memindahkan dananya ke kelas aset yang lebih aman atau safe haven seperti  obligasi pemerintah AS, mata uang dolar AS, dan emas.

"Tren global ini juga berdampak pada appetite investor domestik yang lebih memilih likuiditas dengan mengamankan dananya dulu, dibandingkan masuk ke reksadana," tutur Reita.

Sementara itu Direktur Sinarmas Asset Management, Jamial Salim mengatakan menurunnya angka pembelian reksadana disebabkan investor masih belum melihat adanya perkembangan positif dari data kasus baru Covid-19.

"Ini market rally baru seminggu terakhir, investor masih ada keraguan mengenai dibukanya PSBB (pembatasan sosial berskala besar),” ujarnya.

Meski demikian, Jamial mengaku pihaknya masih optimistis pembelian reksadana akan kembali naik seiring pasar yang terus reli sehingga membuat tingkat kepercayaan diri investor ikut terangkat.

Di sisi lain Head Of Investment Avrist Asset Management, Farash Farich menilai sejauh ini rebound pasar masih berdasarkan ekspektasi pemulihan ekonomi dan bisnis yang lebih cepat dari perkiraan serta mulai diterapkannya adaptasi ke normal baru.

Makanya, Farash menyebut investor akan cenderung menahan ekspektasinya karena kenaikan pasar belum berdasarkan realisasi fundamental bisnis. Tapi, sepanjang valuasi masih rendah sebenarnya investor masih bisa investasi terus berkala.

"Prinsipnya, bahwa hasil investasi saham dan obligasi akan optimal di jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek tetap bisa bervariasi," kata Farash.

Dia menyarankan untuk mendapatkan hasil maksimal, investor dapat melirik reksadana saham baik yang berbasis indeks atau pun strategi aktif, karena valuasinya cenderung masih rendah saat ini.

(AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.