Senin, 08 Juni 2020 09:30:02 WIB

Pemerintah Berencana Terbitkan SBN Neto Rp1.487,6 Triliun Tahun Ini

Penerbitan surat utang untuk menutup defisit fiskal berpotensi minim untuk menyebabkan crowding out
Martina Priyanti
Ilustrasi investasi di Surat Utang Negara. (Shutterstock)

Bareksa.com - Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, menyebutkan pemerintah mematok defisit anggaran 5,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun seiring dengan semakin membengkaknya kebutuhan untuk melawan pandemi Covid-19, defisit Anggaran Negara pada tahun ini diproyeksikan kian melebar ke level 6,34 persen dari PDB.

Salah satu sumber pembiayaan APBN 2020 adalah dengan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Untuk itu, sepanjang tahun ini, pemerintah berencana menerbitkan SBN neto Rp1.487,6 triliun dan SBN bruto Rp1.533,1 triliun.

Ekonom BCA David Sumual menilai besaran rencana penerbitan tersebut masih memungkinkan diserap oleh pasar di masa sekarang. Menurutnya, ini didukung oleh sentimen yang masih positif serta inflasi yang rendah dan yield SBN masih relatif menarik.

"Sentimennya masih positif di pasar dan aliran modal asing juga masuk, apalagi terutama ke SBN dalam tiga minggu terakhir. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga tak menutup kemungkinan untuk masuk lewat non-competitive bidder, green shoe option, dan private placement," kata David dilansir Kontan.co.id, Minggu (7/6/2020).

David membuat perkiraan rincian sumber permintaan SBN. Pertama, permintaan dari perbankan. Saat ini, ia melihat daya serap perbankan bisa lebih besar karena ada tambahan likuiditas dari BI yang mendorong bank untuk membeli SBN.

Kedua, permintaan dari institusi-institusi dalam negeri, seperti asuransi, dana pensiun, mutual fund, dan lainnya. Ketiga, dari investor asing. Selain itu mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 2 tahun 2020, sejak 16 April 2020, BI bisa terjun ke pasar perdana untuk melakukan pembelian SBN dengan porsi tertentu.

Ibarat peribahasa ‘hinggap bak langau, titik bak hujan’. Kondisi perekonomian selalu diliputi ketidakpastian yang bisa menimbulkan kemungkinan kalau pasar tidak bisa menyerap semua dana yang dibutuhkan oleh pemerintah.

David mengatakan kalau pemerintah juga memiliki pilihan lain, yaitu menawarkan surat utang ke negara-negara yang memiliki dana lebih dan bersifat institusional. Selain itu, pemerintah juga bisa menawarkan surat utangnya kepada investment corporation.

"Tapi, saya tidak akan menempatkan itu sebagai usulan prioritas di kondisi sekarang. Karena semua negara mengalami masalah yang sama, banyak negara yang susah kondisinya dan bahkan lebih parah dari Indonesia. Selain itu, kemungkinan pasar tidak bisa menyerap semua dana itu minim," lanjut David.

Menurutnya, kalau penerbitan surat utang untuk menutup defisit fiskal ini berpotensi minim untuk menyebabkan adanya perebutan likuiditas (crowding out). Seperti diketahui, crowding out merupakan agresivitas pemerintah dalam menerbitkan surat utang yang malah meningkatkan konsumsi pemerintah dan berdampak pada lemahnya laju pertumbuhan investasi maupun pertumbuhan ekonomi.

"Itu kan kalau di kondisi normal ada potensi crowding out. Kalau sekarang kan upnormal. Daya serap dari sektor swasta mungkin tidak akan terlalu besar karena kebanyakan sekarang lebih besar di aktivitas restrukturisasi," tukasnya.

Sebagai tambahan informasi, Kontan mencatat pemerintah telah mencatat realisasi penerbitan SBN hingga 20 Mei 2020 sebesar Rp420,8 triliun. Sementara kebutuhan penerbitan SBN di bulan Juni 2020 - Desember 2020 tercatat sebesar Rp1.002,1 triliun.

(AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020 dan telah berakhir pada 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN seri selanjutnya? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.