Jumat, 05 Juni 2020 18:49:22 WIB

Pasar SBN Menguat, Investor Disarankan Fokus pada Valuasi

Investor tidak perlu terlalu terpaku pada tren penguatan atau koreksi jangka pendek
Martina Priyanti
Ilustrasi investor sedang memantau perkembangan pasar SBN yang sedang tren menguat. (Shutterstock)

Bareksa.com - Yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun nampak berangsur-angsur turun. Bank Indonesia (BI) mencatat yield SBN 10 tahun di pasar sekunder berangsur turun dari 8 persen pada April 2020, menjadi 7,76 persen pada 15 Mei 2020. Kemudian, pada 26 Mei 2020 yield SBN 10 tahun kembali turun ke level 7,22 persen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam materi bertajuk "Dukungan Kebijakan di Industri Jasa Keuangan di Masa Pandemi Covid-19" dalam siahturahmi virtual OJK dengan Media, pada Kamis (4/6/2020) antara lain menyebutkan yield SBN 10 tahun per 3 Juni 2020, tercatat 7,32 persen.


Sumber : OJK

OJK mencatat, secara year to date (YtD) per 2 Juni 2020, net sell investor asing (non residen) di pasar SBN tercatat jadi Rp129,45 triliun. Meskipun nilai net sell masih tinggi, namun terus menurun. Bahkan pada Mei 2020, pasar SBN membukukan net buy investor non residen Rp7,07 triliun dibandingkan April yang masih net sell Rp2,15 triliun.


Sumber : OJK

Per 19 Mei 2020, akumulasi net sell investor non residen di pasar SBN secara YtD mencapai Rp138,1 triliun. Net sell investor asing di pasar SBN Maret saja mencapai Rp121,3 triliun. Outflow investor residen mulai deras keluar terjadi sejak pekan terakhir Februari hingga akhir Maret. 


Sumber : OJK
Head of Investment Avrist Asset Management (Avrist AM), Farash Farich menyampaikan ada sejumlah faktor menyebabkan pasar SBN mulai menguat dan membukukan net buy. Antara lain, SBN sudah sangat undervalue. Tidak hanya SBN, pasar saham juga mulai membukukan net buy sepanjang Mei 2020 sebesar Rp8 triliun. Dia menyatakan level terendah pasar SBN dan saham terjadi pada akhir Maret. 

"Setelah itu dengan easing lockdown di berbagai belahan dunia, maka appetite investor masuk kembali ke emerging markets membaik. Walaupun inflow masih sedikit," kata Farash kepada Bareksa, Jumat (5/6/2020).

Perhatikan Valuasi

Ia menyampaikan dengan alasan yang sama juga, penguatan pasar SBN bisa saja terus berlanjut. "Tapi tergantung bagaimana progress lockdown easing globally. Bila tidak memicu second wave Covid-19 harusnya dapat sustainable penguatan pasar secara global," lanjutnya.

Baiknya, ia menyarankan, investor tidak perlu terlalu terpaku pada tren penguatan atau koreksi jangka pendek. "Lebih perhatikan valuasi saat ini yang murah dan lihat hasil di jangka lebih panjang," kata Farash.

(AM)

***

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020 dan telah berakhir pada 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN seri selanjutnya? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.