Jumat, 08 Mei 2020 13:02:43 WIB

Target SBN Ritel Rp50-75 Triliun Tahun Ini, Pemerintah Kaji Terbitkan SR Lagi

Penggantian seri menjadi tradable dipertimbangkan untuk memperbesar potensi penjualan
Hanum Kusuma Dewi
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman (tengah) saat peluncuran Sukuk Ritel seri SR012, di Jakarta (29/2/2020). (Bareksa/AM)

Bareksa.com -  Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) pada kuartal kedua hingga keempat tahun ini sebesar Rp856,8 triliun, di tengah langkah mengatasi pandemi virus corona atau Covid-19. SBN ritel yang bisa diperdagangkan tengah dipertimbangkan untuk kembali diluncurkan demi mencari penjualan yang lebih besar.

Deni Ridwan, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kemenkeu mengatakan jumlah SBN yang diterbitkan sepanjang kuartal kedua hingga keempat tahun ini akan dicukupkan baik dari lelang, penawaran ritel atau private placement domestik dan global.


"SBN ritel target Rp50-75 triliun rencana penerbitannya. Sementara lelang targetnya per dua pekan Rp35-45 triliun, baik untuk SBN atau SBSN," kata Deni dalam Webinar bertajuk Optimisme Investasi pada SUN/SBSN di Tengah Pandemi Covid-19 Rabu, 6 Mei 2020.

Dia menjelaskan bahwa penerbitan SBN dalam rangka pandemi Covid-19 tidak dilakukan melalui seri khusus pandemic bonds, melainkan menjadi bagian dari penerbitan SBN secara keseluruhan, yaitu baik melalui lelang, ritel, maupun private placement baik dalam dan atau luar negeri.

"Untuk pandemic bond, dari pemerintah, diatur melalui Perppu No.1 Tahun 2020, tidak secara spesifik akan terbitkan pandemic bond," ujarnya.

Berkaitan dengan SBN Ritel, dalam waktu dekat ini Kemenkeu akan menerbitkan SBN ritel kembali, meski serinya mungkin berbeda dengan yang direncanakan di awal tahun.

Sebelumnya, pemerintah merencanakan 6 kali penerbitan SBN ritel terdiri dari empat seri yang tidak bisa diperdagangkan (non-tradable) dan dua seri yang bisa diperdagangkan (tradable). Adapun hingga April 2020, sudah terbit dua seri SBN yakni SBR009 (non-tradable) dan SR012 (tradable).

Tabel Rencana Awal Penerbitan SBN Ritel 2020 (tentatif)

*belum terbit, Sumber: DJPPR Kemenkeu

Maka, dengan jadwal tentatif di awal tahun itu, seharusnya menyisakan empat seri lagi yang belum terbit, dengan rincian satu Savings Bond Ritel (SBR), satu seri Obligasi Ritel (ORI) dan dua seri Sukuk Tabungan (ST). Akan tetapi, DJPPR sedang mengkaji untuk mengganti penerbitan ST yang non-tradable menjadi seri Sukuk Ritel (SR) yang tradable.

Kepala Sub direktorat Peraturan dan Analisis Hukum Keuangan Syariah DJPPR, Nana Riana mengatakan pihaknya mempertimbangkan untuk mengganti seri yang non-tradable menjadi tradable untuk memperbesar potensi penjualan.

"Seharusnya penerbitan ST dua kali lagi tetapi kami mengkaji untuk switch menjadi tradable karena potensi penjualan lebih besar. Target awal tinggal 1 kali seri tradable, tetapi dengan kondisi ini kami kaji untuk menerbitkan seri tradable kembali," ujarnya dalam Webinar tersebut.

Sebagai gambaran, penerbitan SBN ritel terakhir adalah Sukuk Ritel (SR012) dengan tanggal setelmen 26 Maret 2020. Penjualan SBN syariah tersebut mencapai Rp12,14 triliun, rekor tertinggi untuk SBN Ritel secara online, yang hadir sejak 2018.

Bahkan penjualan SR012 lebih besar daripada ORI016, jenis SBN konvensional yang diterbitkan sebelumnya dengan realisasi hanya Rp8,21 triliun pada November 2019. Hal tersebut yang mendorong DJPPR untuk mempertimbangkan penerbitan Sukuk Ritel atau SBN dengan sifat tradable kembali tahun ini. Padahal biasanya seri tradable konvensional dan syariah masing-masing diterbitkan sekali dalam setahun.

Sementara itu, berkaitan dengan target raihan dana dari SBN ritel, pemerintah sudah mencatatkan penjualan total Rp14,397 triliun untuk dua seri yang telah terbit tahun ini. Bila dihitung secara porsi, dua seri itu baru mencapai 28,79 persen dari target minimum Rp50 triliun tahun ini.

Maka dari itu, empat seri SBN ritel berikutnya harus bisa meraup setidaknya Rp35,6 triliun untuk mencapai target minimal. Artinya, empat seri tersebut diharapkan bisa mencapai rata-rata penjualan Rp9 triliun agar target tercapai.

Peluang Menarik

Sementara itu, Direktur & CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula, menilai bahwa peluang berinvestasi di pasar obligasi saat ini masih sangat besar. "Meski volatilitas terjadi, tapi secara long term potensi return sangat menarik," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Ezra memandang bahwa akan terjadi resesi ekonomi sehingga pertumbuhan menjadi negatif. Akan tetapi, dengan stimulus yang diluncurkan pemerintah, pada 2021 pertumbuhan ekonomi diharapkan akan bangkit dan tumbuh dengan sangat pesat.

Maka dari itu, dia menilai bahwa peringkat utang yang diberikan lembaga internasional masih aman. Meski baru-baru ini S&P merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, itu wajar dan terjadi di seluruh negara di dunia.

"Secara relatif obligasi Indonesia menarik dari sisi yield (imbal hasil). Selama yield menarik dan bisa dibuktikan dengan kondisi yang pulih dalam 2-3 tahun, peringkat utang Indonesia harusnya tidak akan turun. Saat ini Indonesia masih dalam investment grade," katanya.

Dia menyebut setidaknya ada enam hal yang membuat obligasi Indonesia menarik saat ini. Pertama, tekanan aksi jual mulai mereda. Kedua, stabilisasi rupiah mulai terlihat, dan diprediksi bertahan di kisaran Rp15.000 per dolar AS.

Ketiga, stimulus fiskal dan moneter akan mengangkat sentimen pasar. Keempat selisih imbal hasil obligasi Indonesia dan AS (US Treasury) sangat lebar, sehingga menjadikannya menarik di mata investor. Kelima, kepemilikan asing atas obligasi domestik sudah sangat rendah, sehingga ada potensi asing untuk kembali masuk dan mendorong pasar obligasi.

Terakhir, dukungan rezim suku bunga rendah global menjadikan obligasi pilihan menarik. Maka, Ezra memperkirakan target imbal hasil obligasi pemerintah akan kembali turun, yang menggambarkan harga obligasi menarik di pasar.

"Target imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun pada 2020 di kisaran 6,5-7,0 persen," katanya.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

SBN untuk ritel hanya bisa dipesan online selama masa penawaran saja di Bareksa. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.