Rabu, 06 November 2019 12:46:54 WIB

Ekonomi Sesuai Ekspektasi, Investor Bisa Agresif di Dua Jenis Reksadana Ini

Belanja pemerintah diharapkan meningkat, ke depan konsumsi masih akan stabil
Issa Almawadi
Ilustrasi investor sedang mengalkulasi investasinya di reksadana (shutterstock)

Bareksa.com – Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III 2019 mencapai Rp4.067,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.818,9 triliun.

Hasilnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, ekonomi Indonesia triwulan III 2019 terhadap triwulan III 2018 tumbuh 5,02 persen.


Menurut Director & Portfolio Manager Schroders Investment Management Indonesia, Irwanti, data pertumbuhan ekonomi yang naik 5,02 persen sebenarnya adalah data non-event karena angka ini menunjukkan angka yang stabil jika dibandingkan periode sebelumnya. Angka tersebut juga sesuai ekspektasi dengan survei pasar di angka 5 persen.

“Sehingga reaksi pasar tidak akan berlebihan,” tutur Irwanti kepada Bareksa, Selasa, 5 November 2019.

Akan tetapi, Irwanti bilang, yang perlu dicermati secara detail pelemahan terjadi karena penurunan konsumsi domestik dari 5,2 persen YoY di kuartal II 2019 menjadi 5,0 persen yoy di kuartal III 2019, serta belanja pemerintah.

Irwanti menjelaskan belanja pemerintah turun tentunya tidak mengherankan karena uncertainty menjelang inaugurasi presiden dan menunggu jajaran kabinet yang baru.

Akan tetapi, lanjut Irwanti, pada kuartal IV 2019, kita harapkan ada peningkatan belanja pemerintah. “Untuk konsumsi ke depan kita melihat akan masih stabil karena harga komoditas yang masih lemah mempengaruhi daya beli masyarakat,” imbuh Irwanti.

Kepada Bareksa, Direktur Sinarmas Asset Management Jamial Salim Konpoi juga menyampaikan pendapat serupa. Jamial mengatakan, pertumbuhan ekonomi sudah sesuai prediksi dan sejalan dgn pertumbuhan ekonomi global yang tengah menghadapi berbagai tantangan.

“Karena sesuai ekspektasi, maka harusnya positif dan bisa lebih agresif berinvestasi di reksadana fixed income dan reksadana saham,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Investasi Avrist Asset Management Tubagus Farash Akbar Farich menyampaikan, capaian pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 tersebut masih cukup positif, meski semakin terlihat melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. “Masih sedikit di atas 5 persen,” kata Farash.

Yang jelas, Farash bilang, terlepas dari kondisi ekonomi saat ini, investor reksadana sebaiknya tetap disiplin berinvestasi secara bertahap.

Namun dia menyarankan, investor bisa fokus pada reksadana yang memiliki portofolio fundamental baik dan memiliki valuasi tidak mahal. “Serta sesuai antara underlying asset dan horisonnya,” tambah Farash.

Farash menyontohkan, reksadana saham untuk jangka panjang serta reksadana pendapatan tetap untuk menengah dan jangka panjang. Hingga akhir tahun ini, Farash memperkirakan, pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.