Selasa, 08 Oktober 2019 15:34:44 WIB

Pasar Keuangan Bergejolak, Investasi ORI016 Tetap Stabil dan Untung

Gejolak pasar akibat ketidakjelasan perang dagang AS-China hingga langkah bank-bank sentral dunia memangkas suku bunga
Arief Budiman
Peluncuran ORI016 di The Goods Diner, Jakarta, Rabu (2/10/2019) (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi, surat utang atau obligasi pemerintah dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang dapat dipilih bagi investor.

Dalam situasi perlambatan ekonomi global, sebenarnya tidak ada kekhawatiran bagi investor pemegang obligasi karena keuntungannya relatif stabil dibandingkan dengan alternatif lain.


Beberapa faktor seperti ketidakjelasan perang dagang, hingga langkah bank-bank sentral dunia menurunkan suku bunga membuat pasar keuangan cenderung bergejolak sepanjang tahun ini. Namun, obligasi relatif lebih aman karena pembayaran kupon yang stabil.

Investor selalu punya pilihan dalam menempatkan dana investasinya, apakah akan ditaruh di produk perbankan seperti deposito, atau dibelikan obligasi baik Surat Berharga Negara (SBN) maupun Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

Katakanlah seorang investor menempatkan dananya di deposito dengan bunga 5 - 6 persen per tahun, dikurangi dengan pajak 20 persen, makan bunga riil yang kemungkinan akan diterimanya sekitar 4 - 4,8 persen per tahun.

Sementara obligasi, sebagai contoh terbaru di mana ORI016 dengan kupon 6,8 persen dikurangi pajak 15 persen dari kupon itu, maka imbal hasil bersih yang didapat sekitar 5,78 persen. Dengan demikian, obligasi masih lebih menguntungkan dibandingkan dengan deposito.

Selain kupon, keuntungan juga dapat diraih dari penjualan di pasar sekunder. Investor dapat menjual obligasi di atas nilai pari (par value) dari obligasi. Hal itu yang membuat obligasi tetap menarik dibandingkan opsi lainnya.

Adapun untuk mendorong pasar obligasi lebih semarak, pemerintah diharapkan dapat menyamakan besaran pajaknya. Sebagai informasi, saat ini investor masih mengalami perbedaan perlakuan pajak obligasi.

Misalnya, dana pensiun tidak terkena pajak untuk kepemilikan obligasi, tetapi industri reksadana terkena pajak 5 persen, sementara investor institusi terkena pajak 20 persen. Belum lagi sifat pajaknya apakah final atau badan.

Sebelumnya, Pemerintah resmi memangkas tarif pajak penghasilan yang diterima investor atas bunga surat utang dari dana investasi infrastruktur (DINFRA), dana investasi real estate (DIRE), dan kontrak investasi kolektif-efek beragun aset (KIK-EBA) dari 15 persen jadi 5 persen hingga 2020, dan 10 persen mulai 2021 dan seterusnya.

Relaksasi kebijakan fiskal tersebut termuat dalam Peraturan Pemerintah (PP) terbaru yakni PP No. 55/2019 merupakan pemutakhiran dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 100/2013 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi. Dengan relaksasi itu, maka PPh atas bunga obligasi dari ketiga produk investasi itu setara dengan yang dikenakan atas reksadana sebagaimana tertuang dalam PP No. 100/2013.

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di ORI016? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

(KA01/AM)