Selasa, 08 Oktober 2019 14:25:37 WIB

Kepemilikan Investor Asing Capai Rekor, Pasar Obligasi Indonesia Masih Menarik

Kepemilikan asing di SUN per 4 Oktober 2019 mencapai Rp1.030,78 triliun, rekor tertinggi sepanjang masa
Hanum Kusuma Dewi
Indonesia masih menjadi sasaran investasi investor asing, karena saat ini investor asing cenderung menyukai surat utang negara atau obligasi dibandingkan dengan pasar saham.

Bareksa.com - Pasar obligasi pemerintah Indonesia masih menarik di mata investor, dengan kondisi ekonomi domestik yang stabil meski adanya berbagai sentimen global. Dengan pembelian bersih sejak awal tahun ini, posisi investor asing mencapai rekor tertingginya.

Berdasarkan data Bareksa yang dikompilasi dari Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR), kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) per 4 Oktober 2019 mencapai Rp1.030,78 triliun, rekor tertinggi sepanjang masa. Angka ini menunjukkan nilai pembelian bersih Rp137,53 triliun sejak awal tahun.


Grafik Pertumbuhan Kepemilikan Asing di SUN

Bila dilihat dari porsinya, investor asing memang masih mendominasi kepemilikan Surat Utang Negara Indonesia. Data DJPPR menunjukkan, porsi asing (non-residen) mencapai 39 persen dari total SUN per 4 Oktober 2019.

Grafik Kepemilikan SUN Menurut Tipe Investor

Sumber: DJPPR, diolah Bareksa.com

Yield (imbal hasil) obligasi negara bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, masih terjaga di kisaran 7,24 persen per 7 Oktober 2019, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 8,01 persen pada awal tahun. Yield turun semakin rendah menandakan harga yang semakin tinggi di pasar karena mengindikasikan banyaknya permintaan.

Pada saat yang sama, tingkat inflasi September 2019 masih terjaga di 3,9 persen. Oleh karena itu, analis Bareksa melihat pasar obligasi Indonesia masih sangat atraktif untuk peringkat investment grade atau layak investasi (BBB).

Sementara itu, kondisi ekonomi global masih dipenuhi sentimen seputar potensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang masih belum menemukan titik terang. Penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat di pertengahan September masih belum mampu membawa perubahan arah investasi, karena investor masih berada pada posisi risk off mode.

Di samping itu, penyerangan ladang minyak Arab Saudi oleh drone yang tidak dikenal memperkeruh kondisi politik dunia dan di saat bersamaan kondisi geopolitik Asia semakin panas setelah demonstrasi Hong Kong yang belum berakhir, disusul oleh demonstrasi di Indonesia.

Sentimen global dari perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok ini juga berdampak ke Indonesia, termasuk ke perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena berkurangnya nilai investasi asing, dan ekspor yang tumbuh melambat akibat harga komoditas yang tertekan. Penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat bulan lalu direspon oleh Bank Indonesia dengan memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo sebesar 25bps ke angka 5,25 persen.

Meski demikian, Indonesia masih menjadi sasaran investasi investor asing, karena saat ini investor asing cenderung menyukai surat utang negara atau obligasi dibandingkan dengan pasar saham. “Karena dalam kondisi sentimen negatif dari global dan kondisi politik Indonesia yang bergejolak karena demonstrasi, investor asing cenderung berada pada risk off mode,” jelas Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya, Selasa, 8 Oktober 2019.

Di tengah kondisi seperti ini, Ivan merekomendasikan investor untuk melakukan diversifikasi investasi untuk meminimalisir risiko kerugian yang akan dihadapi di saat pasar masih tak menentu. Menurutnya, reksadana dan obligasi saat ini dapat menjadi pilihan diversifikasi investasi yang tepat. Alasannya, berdasarkan data historis, pasar saham Indonesia umumnya positif di kuartal 4, sementara itu pasar obligasi berpotensi menguat saat era penurunan suku bunga.

Produk obligasi pemerintah yang saat ini sedang ditawarkan adalah Obligasi Negara Ritel seri ORI016. Jenis Surat Berharga Negara untuk investor individu atau ritel ini menawarkan kupon tetap 6,8 persen gross per tahun yang berada di atas suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,25 persen.

ORI016 ini memiliki tenor selama 3 tahun hingga 15 Oktober 2022. Pembayaran kupon akan dilakukan pada tanggal 15 setiap bulannya, dengan kupon pertama dibayarkan pada 15 Desember 2019. Dengan modal Rp1 juta, kelipatan Rp1 juta hingga Rp3 miliar, investor bisa memesan ORI016 selama masa penawaran 2-24 Oktober 2019 secara online melalui mitra distribusi (midis), termasuk Bareksa.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di ORI016? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja. (hm)