Senin, 07 Oktober 2019 10:08:59 WIB

IHSG Jeblok 2,19 Persen Pekan I Oktober, Reksadana Pendapatan Tetap Masih Juara

Kinerja reksadana pendapatan tetap menjadi juara sepanjang pekan lalu dengan kenaikan 0,23 persen
Arief Budiman
Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap (shutterstock)

Bareksa.com - Mengakhiri pekan pertama di bulan Oktober 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat sangat mengecewakan di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 2,19 persen secara mingguan ke level 6.061,25 pada penutupan perdagangan Jumat (04/10/2019).

Sepanjang pekan lalu, sentimen yang beredar memang tidak mendukung bursa saham domestik untuk bergerak positif. Dari dalam negeri, aksi demonstrasi masih terjadi setidaknya pada awal-awal pekan.


Mahasiswa dan berbagai elemen massa mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena pada awal pekan kemarin adalah hari terakhir masa bakti DPR 2014-2019 dan kemudian esoknya disusul oleh pelantikan DPR periode 2029-2014. Bahkan aksi massa sempat berujung pada kericuhan dan perusakan fasilitas publik.

Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi September. Secara bulanan (month on month/MoM) terjadi deflasi 0,27 persen. Lebih dalam dibandingkan dengan konsensus pasar yang sebesar -0,15 persen.

Sementara realisasi inflasi tahunan (year on year/YoY) pada September adalah 3,39 persen dan inflasi inti tahunan di level 3,32 persen. Tidak terlalu jauh dibandingkan dengan konsensus pasar yang memprediksi inflasi tahunan 3,52 persen dan inflasi inti tahunan 3,295 persen.

Rilis data inflasi yang masih senada dengan ekspektasi pasar membuatnya minim dampak di pasar.

Kinerja Pasar Obligasi Masih Oke

Di sisi lain, saat pasar saham mengalami periode yang cukup berat, kondisi pasar obligasi justru masih berhasil mencatatkan kinerja positif. Hal tersebut tercermin dari pergerakan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang dalam sepekan kemarin berhasil mencatatkan kenaikan 0,43 persen.

Kondisi pasar obligasi yang berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan lalu, turut mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap yang memang menjadikan obligasi menjadi mayoritas aset dalam portofolionya.


Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, kinerja reksadana pendapatan tetap menjadi juara sepanjang pekan lalu dengan kenaikan 0,23 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga jenis reksadana yang lain.

Di posisi kedua ditempati oleh reksadana pasar uang dengan return 0,06 persen, kemudian di posisi ketiga ditempati oleh reksadana campuran yang negatif 1,15 persen, dan terakhir ditempati oleh indeks reksadana saham anjlok 2,49 persen.

Secara lebih rinci, lima produk reksadana pendapatan tetap yang menjadi juara sepanjang pekan lalu diraih oleh beberapa produk berikut.


Sumber: Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari asetnya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Obligasi atau surat utang ini bisa yang diterbitkan oleh perusahaan (korporasi) maupun obligasi pemerintah.

Tujuannya untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada reksadana pasar uang tetapi lebih moderat dibandingkan saham sehingga cocok untuk jangka waktu 1 sampai 3 tahun.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.