Kamis, 05 September 2019 12:52:55 WIB

Kapan Waktu yang Tepat untuk Investasi Reksadana?

Semakin panjang waktu berinvestasi, makin besar potensi meraih return
Hanum Kusuma Dewi
Narada Saham Indonesia, yang dikelola oleh PT Narada Aset Manajemen, cocok untuk investasi jangka panjang dan investor yang bertipe agresif atau memiliki profil risiko tinggi.

Bareksa.com - Kita semua sudah tahu pentingnya investasi, yang lebih daripada sekadar menabung, untuk kebutuhan keuangan kita di masa depan. Akan tetapi masih banyak yang bingung kapan waktu tepat untuk berinvestasi.

Bahkan, banyak yang mengira kalau kita sebaiknya berinvestasi kalau sudah punya uang yang banyak. Definisi punya uang banyak atau kaya ini yang membuat kita semakin bingung, itu mungkin terjadi 5 tahun atau 10 tahun lagi.


Lantas, kapan waktu yang tepat untuk investasi?

Sekarang adalah waktu yang tepat karena berinvestasi sedini mungkin lebih baik. Perlu diingat, investasi adalah sarana untuk mengumpulkan uang, sehingga kita tidak harus menunggu kaya dulu untuk memulainya.

Untuk memahaminya, mari kita gunakan contoh. Ada tiga sekawan bernama Adi, Benny dan Charlie. Mereka sama-sama lahir di tahun 1993 dan sama-sama bersekolah hingga sarjana.

Kemudian, di tahun 2013, mereka semua lulus kuliah dan mulai bekerja. Dengan penghasilan pas-pasan, Adi mulai menyisihkan sebagian uangnya untuk berinvestasi di reksadana. Sementara kedua temannya menggunakan seluruh uang gajinya untuk bersenang-senang.

Adi dengan rutin menyisihkan Rp100.000 setiap bulan untuk dibelikan reksadana. Reksadana pilihan Adi adalah reksadana saham Narada Saham Indonesia, yang dikelola oleh PT Narada Aset Manajemen. Reksadana saham cocok untuk investasi jangka panjang dan investor yang bertipe agresif atau memiliki profil risiko tinggi.

Benny pada tahun 2015 baru memulai investasi. Dengan modal yang sama, Rp100.000 per bulan, Benny juga kemudian rutin membeli reksadana Narada Saham Indonesia.

Setelah kedua temannya berinvestasi dan mulai merasakan hasilnya, Charlie tidak mau ketinggalan. Akhirnya, dia mulai membeli reksadana Narada Saham Indonesia dengan modal Rp200.000 per bulan.

Bagaimana hasilnya kini?

Berdasakan simulasi Bareksa menggunakan data historis, hasil investasi Adi per 14 Agustus 2019 sudah mencapai Rp9,6 juta. Nilai keuntungannya saja sebesar Rp2,3 juta atau 31,51 persen dari investasi selama 6 tahun.

Sementara itu, hasil investasi Benny sudah mencapai Rp6,07 juta per 14 Agustus 2019. Dia mendapatkan return (imbal hasil) Rp1,17 juta atau 23,88 persen dalam waktu 4 tahun berinvestasi rutin.

Terakhir, nilai investasi Charlie baru mencapai Rp5,29 juta. Return yang dia dapatkan hanya Rp290.451 atau 5,81 persen dalam waktu 2 tahun berinvestasi.

Grafik Perbandingan Hasil Investasi

Sumber: Bareksa.com

Dari hasil simulasi tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa investasi waktu panjang bisa memberikan potensi keuntungan atau return yang besar dibandingkan dengan investasi untuk waktu yang pendek. Hal ini berlaku dengan modal yang kecil sekalipun.

Investasi itu layaknya pohon, semakin lama akan tumbuh dan berkembang selama kita merawatnya dengan baik. Maka dari itu, waktu yang tepat untuk memulai investasi adalah sekarang, saat ini juga karena dalam waktu yang panjang kita akan bisa menikmati hasil investasi tersebut.

Jadi, jangan sampai terlambat. Ayo mulai investasi sekarang juga.

Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

Sebagai informasi, reksadana adalah kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor) yang dikelola oleh manajer investasi. Kumpulan dana ini dimasukkan ke dalam berbagai aset investasi seperti saham, obligasi, dan deposito. Reksadana adalah produk investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

(ADV)

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.