Kamis, 05 September 2019 08:44:01 WIB

Berita Hari Ini : Inklusi Keuangan Baru Sentuh 51 Persen; Asing Jual SBN Rp3,4 T

Fintech harus hindari winner takes all; Asuransi berbasis indeks tingkatkan penetrasi
Issa Almawadi
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dihadapan wartawan di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis, 5 September 2019 :

Inklusi Keuangan


Tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan di pertengahan 2019. Sampai saat ini, akses masyarakat terhadap lembaga keuangan telah mencapai 51 persen.

Seperti dikutip Kontan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan sebelumnya inklusi keuangan masih di bawah 40 persen tapi kini telah naik menjadi 51 persen berkat penyaluran dana bantuan sosial (Bansos) ke masyarakat.

Dari jumlah itu, Bansos Program Keluarga Harapan (PKH) telah disalurkan kepada 10 juta keluarga, sedangkan Bansos Bantuan Pangan Non-Tunai (BNPT) kepada 15,9 juta keluarga.

“Dengan tambahan itu, Insya Allah tahun ini dan tahun depan, inklusi keuangan di Indonesia bisa naik di atas 60 persen. Jumlah itu baru menyambungkan masyarakat ke dunia keuangan baik melalui uang elektronik maupun rekening bank,” jelas Perry.

Proyeksi itu, lebih rendah dari target inklusi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DKNI) yaitu di angka 75 persen sampai akhir 2019.

SBN

Ketidakpastian global mempengaruhi minat investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang bulan Agustus lalu. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu, investor asing melakukan aksi jual secara akumulatif di pasar SBN sebesar Rp3,44 triliun pada bulan lalu. Alhasil, di akhir bulan lalu nilai kepemilikan asing di pasar SBN berada di level Rp1.009,60 triliun.

Seperti dikutip Kontan, Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia Fikri C. Permana mengatakan, pasar obligasi cenderung bergerak fluktuatif sepanjang bulan lalu. Hal ini akibat sejumlah sentimen global mulai dari meningkatnya tensi perang dagang AS-China sampai gejala inversi yield US Treasury akibat ancaman resesi global.

Sentimen-sentimen ini yang akhirnya membuat investor asing cenderung berhati-hati, bahkan melakukan aksi jual di pasar obligasi Indonesia. Namun, ia menganggap aksi jual yang terjadi di bulan lalu masih terbilang wajar. Pasalnya, komposisi dana investor asing di pasar SBN masih di kisaran 38 persen. Nilai kepemilikan asing juga masih berada di atas Rp1.000 triliun.

Fintech

Industri teknologi finansial atau tekfin dinilai perlu antisipasi fenomena winner takes all dalam perkembangannya, yakni monopoli bisnis oleh satu atau beberapa pemain besar, seperti yang terjadi dalam industri e-commerce.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang dikutip Bisnis Indonesia. Menurut dia, terdapat berbagai tantangan dari perkembangan industri tekfin yang perlu diantisipasi.

Setidaknya, terdapat tiga tantangan yang menjadi perhatian pemerintah, pertama yakni industri tekfin perlu mengantisipasi fenomena winner takes all. Untuk mengantisipasi hal tersebut, menurut Darmin, regulator perlu adaptif dalam membuat regulasi yang sesuai perkembangan.

"Keterlambatan regulator mengantisipasi perkembangan itu perlu diperhatikan. Regulator di satu pihak harus berani menjalankan fungsinya dengan menggunakan risk management yang baik, tapi di pihak lain inovasi harus tetap bisa berkembang," ujar Darmin.

Asuransi Umum

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menilai salah satu upaya dalam meningkatkan penetrasi asuransi umum dengan mengarap produk asuransi berbasis indeks atau asuransi parametrik. Lewat produk ini, pelaku asuransi umum dapat menggarap produk sesuai yang dibutuhkan nasabah.

Seperti dikutip Kontan, Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe bilang penetrasi asuransi di Indonesia terhadap pendapatan domestik bruto hanya 2,77 persen.

Bahkan khusus untuk asuransi umum, penetrasinya hanya 0,41 persen. Lanjut dia, artinya satu orang Indonesia hanya mampu membeli premi asuransi umum seharga Rp230.000 per tahun.

“Artinya bila perusahaan asuransi umum menawarkan produk dengan harga di atas Rp230.000 tidak ada yang mau beli. Selain itu, literasi juga masih kecil menyebabkan asuransi umum sulit menjual asuransi mikro dengan premi kecil lantaran proses klaim yang ribet. Oleh sebab itu, perlulah produk yang lebih sederhana yakni asuransi parametrik,” ujar Dody.

Ekonomi Digital

Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin menggeliat. Hal ini tercermin dari jumlah pengguna ponsel pintar mencapai 133 persen dan pengguna internet 56 persen dari total populasi Indonesia sebanyak 268,2 juta orang.

Dari jumlah tersebut, nilai transaksi online di Indonesia mencapai Rp47,19 triliun di 2018, atau meningkat 281,39 persen dari realisasi tahun sebelumnya yaitu Rp12,37 triliun.

Dari jumlah tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksikan nilai pasar ekonomi digital di Indonesia bisa mencapai US$100 miliar pada 2025.

“Dalam industri keuangan, adopsi teknologi terjadi begitu masif. Teknologi telah menciptakan cara baru masyarakat mendapatkan akses layanan keuangan yang akhirnya mempercepat tercapainya keuangan inklusif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Darmin.

(AM)