Senin, 19 Agustus 2019 13:07:27 WIB

IHSG Naik Tipis Sepekan, Tiga Reksadana Saham Ini Ikut Melesat

Indeks Harga Saham Gabungan tercatat naik tipis 0,07 persen secara mingguan ke level 6.286,66
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/6/2019).ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Bareksa.com - Mengakhiri pekan ketiga di bulan Agustus 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat cenderung terbatas di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik tipis 0,07 persen secara mingguan ke level 6.286,66 pada penutupan perdagangan Jumat (16/08/2019).

Meskipun hanya mampu menguat tipis, IHSG merupakan satu dari dua indeks saham utama Benua Asia yang mampu menguat di tengah terpaan sejumlah sentimen negatif terkait perekonomian global. Penguatan paling tinggi dilakukan oleh bursa saham China, di mana indeks Shanghai melesat 1,77 persen dalam sepekan.


Sementara itu, sebagian besar busa saham utama Asia harus rela parkir di zona merah, di mana indeks Straits Times (Singapura) terkoreksi paling dalam, yaitu 1,7 persen.
Indeks Nikkei (Jepang) menemani dengan pelemahan 1,29 persen, disusul SET (Thailand) yang terkoreksi 1,17 persen. Tak mau ketinggalan KLCI (Malaysia), Hang Seng (Hong Kong), dan Kospi (Korea Selatan) juga melemah masing-masing 0,98 persen, 0,79 persen, dan 0,55 persen.

Di awal pekan, sentimen negatif dari perang dagang Amerika Serikat (AS) - China sudah menerpa. Pada Jumat, 9 Agustus 2019, Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaan untuk melanjutkan perundingan dengan China yang dijadwalkan berlangsung pada awal September. Namun bukan tidak mungkin dialog itu batal.

Namun pada Rabu, 14 Agustus 2019 dini hari waktu Indonesia, Trump memutuskan untuk menunda pemberlakuan bea masuk 10 persen untuk produk impor asal China senilai US$300 miliar. Dari yang sedianya akan berlaku mulai 1 September, Trump menunda hingga 15 Desember.

Di tengah kondisi IHSG yang bergerak cenderung terbatas, hal tersebut turut menekan kinerja reksadana saham di mana indeks reksadana saham merosot 0,77 persen, dan indeks reksadana saham syariah terpangkas 1,54 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Namun di tengah kondisi indeks reksadana saham yang tertekan tersebut, tercatat masih ada beberapa produk reksadana saham yang dijual Bareksa yang mampu membukukan kinerja positif sepanjang pekan lalu dengan kenaikan di atas 1 persen, jauh mengungguli kinerja ketiga tolok ukur (benchmark) tersebut. Berikut ulasannya.

1. Sucorinvest Maxi Fund

Reksadana saham yang menjadi juara sepanjang pekan lalu diraih oleh Sucorinvest Maxi Funddengan kenaikan 1,5 persen.


Sumber: Bareksa

Sucorinvest Maxi Fund bertujuan untuk memberikan apresiasi modal dan tingkat keuntungan yang optimal dalam jangka panjang dengan mengkapitalisasi pasar modal indonesia.

Produk yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp169,31 miliar.

Sucorinvest Maxi Funddapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 1O ktober 2014 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

2. HPAM Ultima Ekuitas 1

Reksadana saham terbaik nomor dua sepanjang pekan lalu diraih oleh HPAM Ultima Ekuitas 1 dengan kenaikan 1,18 persen.


Sumber: Bareksa

HPAM Ultima Ekuitas 1 bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang agresif dan optimal dalam jangka panjang dengan melakukan investasi ke dalam instrumen investasi secara aktif pada saham-saham yang telah dijual dalam penawaran umum dan/atau dicatatkan di Bursa Efek dan/atau efek bersifat utang dan/atau instrumen pasar uang dan/atau kas dan setara kas.

Produk yang dikelola oleh PT Henan Putihrai Asset Management ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp1,24 triliun.

HPAM Ultima Ekuitas 1 dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp500 ribu. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 7 Desember 2009 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

3. Shinhan Equity Growth

Reksadana saham terbaik nomor tiga pekan lalu diraih oleh Shinhan Equity Growth dengan kenaikan 1,16 persen.


Sumber: Bareksa

Shinhan Equity Growth bertujuan untuk memberikan hasil yang optimal untuk para investor dalam jangka panjang melalui proses investasi yang dilakukan secara selektif dan pengelolaan yang penuh ke hati-hatian di dalam pasar modal Indonesia pada efek bersifat ekuitas.

Produk yang dikelola oleh PT Shinhan Asset Management Indonesia ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp30,71 miliar.

Shinhan Equity Growth dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 15 Agustus 2012 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank DBS Indonesia.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.