Jumat, 16 Agustus 2019 09:02:03 WIB

Tanda-tanda Resesi Ekonomi AS Menguat, Saatnya Investasi di Reksadana Pasar Uang

Instrumen pasar uang adalah efek utang yang jatuh temponya kurang dari setahun
Muhammad Ikhsan B
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan tengah) dan Presiden China Xi Jinping (paling kiri) saat makan malam bersama usai pertemuan pemimpin-pemimpin negara G-20 di Buenos Aires, Argentina (01/12/2018). (akun Twitter @WhiteHouse)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun pada akhir perdagangan kemarin, Kamis (15/8). IHSG turun 0,16 persen atau 9,76 point ke level 6.257,96. Menurut analisis Bareksa, salah satu penyebab koreksi IHSG yang terjadi pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh desas-desus resesi Amerika Serikat (AS) yang dikabarkan akan terjadi sehingga membuat investor panik dan menyebabkan indeks turun.

Merosotnya sejumlah indikator ekonomi Amerika memperlebar peluang terjadinya resesi global. Indikator utama pasar obligasi Amerika misalnya untuk pertama kalinya sejak 2007 menunjukkan hasil negatif pada Rabu (14/8) yang membuat indeks saham anjlok.


Sayangnya, hal itu justru diciptakan sendiri oleh Amerika, terutama akibat aksi-aksi kontroversial yang dilakukan Presiden AS Donald Trump. Utamanya akibat tindakannya yang memicu perang dagang dengan Cina

Pada 2018 sebenarnya Amerika memulai pertumbuhan ekonomi yang mumpuni dengan mencapai level pertumbuhan 2,9 persen. Angka itu tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan ikut menikmati dengan meraup laba besar akibat pemotongan pajak. Angka pengangguran pun jatuh ke level terendahnya sepanjang setengah abad terakhir.

Di sisi lain, tindakan The Federeal Reserve yang mengerek bunga acuan pada Desember sejatinya memang mendapat respons negatif dari sejumlah negara. Sejak aksi The Fed tersebut Trump telah dua kali menyatakan kenaikan tarif atas impor Cina senilai total US$500 miliar.

Sayangnya, ulah Trump tersebut bikin pasar keuangan Amerika oleng. Sebagai hasilnya imbal hasil obligasi AS 10 tahun anjlok ke level 1,59 persen pada Rabu (14/8).

Sedangkan imbal hasil obligasi di bawah 10 tahun pada Kamis (15/8) jatuh lebih dalam sebesar 91 bps dibandingkan Rabu. Sementara imbal hasil treasury AS 30 tahun juga telah mencapai ttiik terendahnya sejak Mei 2012 di level 1,98 persen, setelah anjlok 27 bps sepanjang pekan ini.

Penurunan ini tercatat lebih parah dibandingkan lima resesi yang menghantam AS sebelumnya. Ini sesuai dengan menurunnya optimisme bisnis Amerika secara jangka panjang yang ikut merosot.

Karena itu, pemangkasan bunga acuan oleh The Fed sejatinya tak terhindarkan. Dengan suku bunga berjangka di kisaran 81 persen, The Fed diprediksi akan memangkas suku bunga 25 bps pada September.

Saatnya Parkir Uang di Reksadana Pasar Uang

Atas kekhawatiran resesi tersebut wajar bila investor melakukan aksi jual, apalagi bagi yang ingin merealisasikan keuntungannya. Lalu kemana dana kas hasil profit taking ini sebaiknya di tempatkan?

Ada 1 jenis reksadana yang terus mampu memberikan imbal hasil di atas deposito, yaitu RDPU (reksadana pasar uang) yang menempatkan seluruh aset investornya pada instrumen pasar uang.

Mengenal Pasar Uang

Apa yang disebut sebagai instrumen pasar uang? Instrumen pasar uang adalah efek utang yang jatuh temponya kurang dari setahun, misalnya sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito dan bisa juga obligasi selama jatuh temponya kurang dari satu tahun. Dengan isi portfolio tersebut reksadana pasar uang menjadi reksadana yang relatif paling aman.

Reksadana pasar uang memiliki beberapa keunggulan yang cukup menarik. Pertama reksadana ini umumnya memiliki imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito, harap diingat bunga deposito terkena pajak 20 persen, sedangkan reksadana adalah instrumen yang bebas pajak.

Reksadana pasar uang juga memiliki likuiditas yang tinggi, subscription (pembelian unit reksadana) ataupun redemption (penjualan kembali unit reksadana) dapat dilakukan kapanpun dan tanpa biaya. Dengan karakteristik tersebut tentu investor dapat mencoba menggunakan reksadana pasar uang sebagai alternatif deposito.

Meski demikian investor tidak boleh lupa bahwa reksadana adalah instrumen investasi sehingga berbeda dengan deposito yang masih dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bila sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan reksadana pasar uang walaupun isinya sebagian besar adalah deposito namun instrumen ini tidak ada yang menjamin.

Reksadana pasar uang memang cocok bagi investor pemula atau investor yang ingin menjaga nilai uangnya dalam jangka pendek (kurang dari 1 tahun), Likuiditas yang tinggi dan imbal hasil setara deposito menjadi salah satu daya tarik dari reksadana ini sehingga bila sewaktu-waktu pasar modal mengalami koreksi investor dapat segera melakukan switching ke jenis reksadana lainnya.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.