Senin, 12 Agustus 2019 15:15:59 WIB

Lampaui Kenaikan IHSG, Dana Kelolaan Reksadana Melonjak 6,41 Persen

Dana kelolaan reksadana menjadi Rp537,79 triliun per 9 Agustus 2019 dari posisi akhir 2018 yang sebesar Rp505,39 triliun
Issa Almawadi
Ilustrasi investasi di reksadana (shutterstock)

Bareksa.com – Pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan reksadana masih lebih baik ketimbang Indeks Harga Saham Gabugan (IHSG). Hingga 9 Agustus 2019, saat IHSG secara year to date hanya naik 1,41 persen ke level 6.282,13, dana kelolaan reksadana melonjak 6,41 persen.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan reksadana naik menjadi Rp537,79 triliun dari posisi akhir tahun 2018 Rp505,39 triliun. Seiring kenaikan dana kelolaan, jumlah investor reksadana juga melonjak signifikan.


Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) jumlah investor reksadana per 9 Agustus 2019 mencapai 1.396.831 atau melonjak 40,31 persen dibandingkan akhir 2018 yang sebanyak 995.510 SID.


Sumber : KSEI

Secara umum, OJK melihat, kinerja pasar modal Indonesia pada tahun ini berjalan dinamis. Kondisi tersebut tidak lepas dari pengaruh perekonomian domestik serta global.

Menurut OJK, beberapa faktor domestik yang turut memberikan pengaruh terhadap pasar modal antara lain pemilihan presiden Republik Indonesia yang berjalan kondusif, tingkat inflasi yang stabil, tercatat di bulan Juni di level 2,5 persen (YtD) atau 3,28 persen (YoY), meskipun neraca perdagangan Indonesia secara YtD per Juni masih tercatat defisit US$1,93 miliar.

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan berada di angka 5,2 persen (turun dari target awal 5,3 persen). Di sisi lain, Standard & Poor’s (S&P) meningkatkan sovereign credit rating pemerintah dari BBB-/outlook stabil menjadi BBB/outlook stabil. Ada juga penurunan BI-7 days Reverse Repo Rate Bank Indonesia 0,25 persen menjadi 5,75 persen.

Adapun faktor global yang mempengaruhi antara lain ketidakpastian perang dagang antara China dan Amerika Serikat, serta IMF kembali menurunkan proyeksi perekonomian global pada tahun 2019 dan 2020 yaitu masing-masing 3,2 persen dan 3,5 persen.

Dengan catatan-catatan itu, OJK masih terus melakukan analisa dan evaluasi atas efektivitas dari beberapa regulasi, kebijakan, dan praktek atau proses bisnis di pasar modal (regulatory impacts assessments and evaluation) guna untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri pasar modal nasional.

Melalui capaian dan rencana OJK ke depannya, OJK meyakini di tahun ke-42 reaktivasi Pasar Modal Indonesia ini, peran dan kontribusi pasar modal modern di era ekonomi digital akan terus meningkat dan nantinya akan membantu mendorong program-program ekonomi prioritas pemerintah secara lebih signifikan, serta mempunyai dampak lebih konkret dalam mendorong pertumbuhan sektor riil di tanah air.

(AM)