Senin, 12 Agustus 2019 12:09:45 WIB

IHSG Tertekan Sepekan, Lima Reksadana Saham Ini Tahan Banting dan Juara

Sepanjang pekan kedua Agustus 2019, IHSG tertekan 0,92 persen ke 6.282 dan indeks reksadana saham merosot 0,96 persen
Arief Budiman
Seorang pria mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/4/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc

Bareksa.com - Mengakhiri pekan kedua di bulan Agustus 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat cukup mengecewakan di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 0,92 persen secara mingguan ke level 6.282,13 pada penutupan perdagangan Jumat (09/08/2019).

Meski begitu, jika dibandingkan bursa utama Asia lainnya, pelemahan bursa saham Tanah Air menjadi yang paling minim kedua setelah bursa saham Malaysia yang melemah 0,72 persen.


Beberapa indeks saham utama di kawasan Asia yang berguguran dalam sepekan yakni Indeks Nikkei 225 di Jepang minus 1,91 persen, Shanghai anjlok 3,25 persen, Kospi di Korea Selatan amblas 3,02 persen, Hang Seng di Hong Kong amblas 3,64 persen, Straits Times Singapura terpangkas 2,83 persen, ASX All di Australia terperosok 2,67 persen.

Eskalasi perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, plus kemungkinan terjadinya perang mata uang menjadi penggerak utama bursa saham global termasuk IHSG sepanjang pekan lalu.

Seperti diketahui, pada Kamis (1/8/2019) Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10 persen bagi produk impor asal China yang senilai US$300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 1 September. Kacaunya lagi, Trump menyebut bea masuk baru tersebut bisa dinaikkan hingga menjadi di atas 25 persen.

China kemudian mengumumkan balasan terkait dengan bea masuk baru tersebut. Melansir CNBC International, seorang juru bicara untuk Kementerian Perdagangan China mengatakan perusahaan-perusahaan asal Negeri Panda telah berhenti membeli produk agrikultur asal AS sebagai respons dari rencana Trump untuk mengenakan bea masuk baru yang menyasar produk impor asal China senilai US$300 miliar.

Sementara dari dalam negeri, data ekonomi yang ada juga kurang mendukung bagi pergerakan IHSG, Bank Indonesia (BI) melaporkan neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2019 membukukan defisit US$8,4 miliar atau setara 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB).

CAD tersebut jauh lebih dalam ketimbang kuartal I 2019 yang hanya US$7 miliar (2,6 persen terhadap PDB). Bahkan juga lebih dalam dibanding CAD kuartal II 2018 yang sebesar US$7,9 miliar (3,01 persen PDB).

Di tengah kondisi IHSG yang bergerak negatif, hal itu turut menekan kinerja reksadana saham di mana indeks reksadana saham merosot 0,96 persen, dan indeks reksadana saham syariah terkoreksi 0,25 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Namun di tengah kondisi indeks reksadana saham yangtertekan tersebut, tercatat masih ada beberapa produk reksadana saham yang dijual Bareksa yang mampu membukukan kinerja positif sepanjang pekan kemarin serta mampu mengalahkan kinerja ketiga tolok ukur (benchmark) tersebut. Berikut ulasannya.

1. Sucorinvest Maxi Fund

Reksadana saham yangmenjadi juara sepanjang pekan lalu diraih oleh Sucorinvest Maxi Fund dengan kenaikan 2,44 persen.


Sumber: Bareksa

Sucorinvest Maxi Fund bertujuan untuk memberikan apresiasi modal dan tingkat keuntungan yang optimal dalam jangka panjang dengan mengkapitalisasi pasar modal indonesia

Produk yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp169,31 miliar.

Sucorinvest Maxi Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 1Oktober 2014 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

2. Minna Padi Pasopati Saham

Reksadana saham terbaik nomor dua sepanjang pekan lalu diraih oleh Minna Padi Pasopati Saham dengan kenaikan 1,68 persen.


Sumber: Bareksa

Minna Padi Pasopati Saham bertujuan untuk mempertahankan nilai modal dan mendapatkan tingkat penghasilan yang terus menerus dalam jangka menengah dan panjang dengan cara melakukan investasi portofolio secara aktif pada efek ekuitas yang  diterbitkan oleh korporasi

Produk yang dikelola oleh PT Minna Padi Aset Manajemen ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp1,32 triliun.

Minna Padi Pasopati Saham dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp250.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 21 Oktober 2016 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

3. Sucorinvest Sharia Equity Fund

Reksadana saham terbaik nomor tiga sepanjang pekan lalu diraih oleh Sucorinvest Sharia Equity Fund dengan kenaikan 1,63 persen.


Sumber: Bareksa

Sucorinvest Sharia Equity Fund bertujuan untuk mengoptimalkan tingkat keuntungan dalam jangka panjang pada saham berbasis syariah dengan melakukan investasi minimum 25 persen dari net asset value (NAV) diinvestasikan pada saham-saham berkapitalisasi kecil – menengah yang memiliki pertumbuhan bisnis yang baik.

Produk yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp188,16 miliar.

Sucorinvest Sharia Equity Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 8 November 2013 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

4. Shinhan Equity Growth

Reksadana saham terbaik nomor empat sepanjang pekan lalu diraih oleh Shinhan Equity Growth dengan kenaikan 1,16 persen.


Sumber: Bareksa

Shinhan Equity Growth bertujuan untuk memberikan hasil optimal untuk para investor dalam jangka panjang melalui proses investasi yang dilakukan secara selektif dan pengelolaan yang penuh ke hati-hatian di dalam pasar modal Indonesia pada efek bersifat ekuitas.

Produk yang dikelola oleh PT Shinhan Asset Management Indonesia ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp30,71 miliar.

Shinhan Equity Growth dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 15 Agustus 2012 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank DBS Indonesia.

5. HPAM Syariah Ekuitas

Reksadana saham terbaik nomor lima sepanjang pekan lalu diraih oleh HPAM Syariah Ekuitas dengan kenaikan 0,25 persen.


Sumber: Bareksa

HPAM Syariah Ekuitas bertujuan untuk memberikan pertumbuhan nilai investasi dengan waktu panjang melalui penempatan pada efek syariah dengan mayoritas pada efek bersifat ekuitas yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah.

Produk yang dikelola oleh PT Henan Putihrai Asset Management ini, hingga Juli 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp325,87 miliar.

HPAM Syariah Ekuitas dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp500.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 28 Agustus 2014 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.