Jumat, 09 Agustus 2019 15:18:36 WIB

Prospek Reksadana di Tengah Stabilitas Politik dan Penurunan Suku Bunga

Reksadana menjadi pilihan yang paling mudah untuk dimiliki
Issa Almawadi
Ilustrasi investor memantau perkembangan investasinya di reksadana (shutterstock)

Bareksa.com – Memasuki kuartal II 2019, Indonesia mengalami dua peristiwa yang cukup berdampak bagi perekonomian domestik yakni penetapan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 dan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia pada Juli 2019. Ditambah dengan kondusifnya politik dan ekonomi dalam negeri dan perlambatan ekonomi global, Indonesia makin dilirik oleh investor.

Executive Director Charta Politika Yunarto Wijaya menyebutkan bahwa dengan ditetapkannya Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019-2024 mengakhiri pertarungan politik dengan kondusif.


“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Jokowi membentuk kabinet dengan dasar koalisi yang kuat agar berbagai kebijakan dan program berjalan lancar saat di parlemen serta menjaga stabilitas politik. Jika stabilitas politik terjaga, tentunya ekonomi pun akan stabil dan dapat menarik investor,” kata Yunarto dalam acara Market Update 2019 dan New Synergy Bank Commonwealth and Sucor Asset Management, di Jakarta, Kamis, 8 Agustus 2019.

Pada kesempatan yang sama, President Director Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana menjelaskan, terpilih kembalinya Joko Widodo pada Pilpres 2019 untuk periode kedua dan terakhir kali ini mengindikasikan arah alokasi spending pemerintah akan kembali pada arah yang lebih disukai pasar dibandingkan arahan spending yang nampak sepanjang tahun politik 2019.

Kemungkinan yang lebih besar untuk terjadi adalah pemerintah akan lebih leluasa mengambil keputusan yang disukai pasar dibandingkan keputusan populis sehingga diyakini mampu untuk membangun optimisme investor yang lebih baik lagi.

Selain itu, kondisi market domestik sangat dipengaruhi oleh kondisi market global. Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang berlanjut terus semakin menekan volume perdagangan dunia dan berakibat pada perlambatan ekonomi global.

“Hal ini menyebabkan ekonomi dunia tumbuh melambat, namun di satu sisi negara-negara berkembang akan mendapatkan keuntungan dari trade war ini. Dimana ekspor ke kedua negara tersebut akan naik dikarenakan perdagangan antar kedua Negara berkurang,” jelas Jemmy.

Kondisi perlambatan ekonomi global memberikan sentimen terhadap market domestik, salah satunya adalah penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25bps menjadi 5,75 persen. Jemmy memperkirakan penurunan suku bunga acuan ini akan akan berdampak baik terutama pada obligasi dan saham.

“Apabila cost of fund dan deposito mencapai level yang sangat rendah tentu pasar modal menjadi lebih menarik walaupun dengan adanya resiko yang lebih tinggi, dan reksadana menjadi pilihan yang paling mudah untuk dimiliki,” tambah jemmy.

Beberapa hari lalu BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 5,05 persen secara tahunan. Sehingga pada dasarnya berbagai pengaruh global dan domestik yang terjadi di market masih bisa dikendalikan. Hal ini dapat dilihat dengan kondisi market global yang cukup positif dengan terkendalinya risiko-risiko yang ada.

Investasi Reksadana

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan, dengan kondisi yang stabil dan kondusif ini, dunia investasi khususnya investasi reksadana sangat diuntungkan. “Penurunan suku bunga acuan tersebut tentunya memberikan stimulasi positif terhadap industri reksadana. Investor dapat memanfaatkan kondisi ini untuk menambah investasinya di obligasi atau reksadana saham agar mendapatkan imbal hasil yang optimal,” jelas Ivan.

Ivan melanjutkan, investor menyukai produk dengan catatan kinerja yang baik. Reksadana saham secara historikal masih memberikan imbal hasil yang tertinggi dalam jangka panjang dibandingkan dengan reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap serta reksadana campuran.

Karena itu, Bank Commonwealth memulai kerja sama dalam mendistribusikan reksadana di bawah kelolaan Sucor AM yaitu Sucorinvest Equity Fund di mana secara kinerja produk ini memberikan imbal hasil sebesar 66,29 persen dalam tiga tahun terakhir, sementara tolok ukur IHSG memberikan imbal hasil sebesar 21,91 persen (data per Juli 2019).

Untuk melengkapi reksa dana saham Sucor AM, Bank Commonwealth juga mendistribusikan reksa dana Sucorinvest Money Market Fund, reksa danapasar uang dengan dana kelolaan Rp2,96 triliun (data per akhir Juli 2019).

(AM)