Rabu, 07 Agustus 2019 04:02:40 WIB

Ini Detail Hasil Lelang Enam Seri SBSN dan Penyebab Devaluasi Yuan

Bank Indonesia dan Menko Perekonomian merespons pelemahan yuan
Muhammad Ikhsan B
Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tingkat menteri mengenai Evaluasi Kebijakan Penurunan Tarif Angkutan Udara di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (8/7/2019). (ANTARA FOTO)

Bareksa.com - Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) menyerap dana Rp8,03 triliun pada Selasa ini di mana total penawaran masuk untuk enam seri SBSN yang dilelang mencapai Rp18,05 triliun.

Menurut keterangan Kemenkeu Selasa (6/8), untuk SPNS07022020 jumlah penawaran masuk Rp6,55 triliun dengan yield tertinggi yang masuk 6,25 persen dan terendah 6,03 persen dan PBS014 jumlah penawaran masuk Rp6,551 triliun dengan yield tertinggi 7,18 persen dan terendah 6,71 persen.


PBS019 jumlah penawaran masuk Rp2,667 triliun dengan yield tertinggi 7,59 persen dan terendah 7,06 persen serta PBS021 jumlah penawaran masuk Rp571 miliar dengan yield tertinggi 7,9 persen dan terendah 7,75 persen.

PBS022 jumlah penawaran masuk Rp0,313 triliun dengan yield tertinggi 8,46 persen dan terendah 8,12 persen serta PBS015 jumlah penawaran masuk Rp1,399 triliun dengan yield tertinggi 8,9 persen dan terendah 8,31 persen.

Devaluasi Yuan

Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China memasuki babak baru. Setelah AS mengancam bakal mengenakan bea masuk baru, China membalas dengan tindakan yang lebih konkret yaitu 'melemahkan' mata uang yuan.

Kemarin, yuan melemah lebih dari 1 persen terhadap dolar AS dan menembus level 7 yuan per dolar AS. Terlemah sejak Maret 2008 atau 11 tahun lalu.

Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam bakal mengenakan bea masuk 10 persen terhadap impor produk-produk China senilai US$300 miliar. Kebijakan ini rencananya mulai berlaku 1 September.

China tidak terima. Sejak kemarin, China seakan membiarkan (atau malah mungkin sengaja) yuan melemah. Apa yang dikhawatirkan dunia sepertinya menjadi kenyataan, perang mata uang (currency war) sudah dimulai.

Depresiasi yuan membuat produk-produk asal China menjadi lebih murah di pasar global, sehingga mendongkrak kinerja ekspor Negeri Tirai Bambu. Jadi walau sulit masuk pasar AS, negara tujuan ekspor utama, China bisa leluasa berpenetrasi ke negara-negara lain.

Sekedar informasi, benchmark acuan yakni obligasi pemerintah tenor 10 tahun terus melemah menjadi 7,66 persen saat ini, dari sebelumnya di awal Agustus berada di level 7,4 persen atau telah naik 26bps. Hal ini disebabkan adanya efek perang dagang AS - China yang berdampak pada adanya tindakan devaluasi (melemahkan) mata uang Yuan.

Respons BI dan Menko Perekonomian

Pelemahan mata uang yuan China menjadi risiko baru bagi pasar global. Pasalnya, ini telah menjadi babak baru perang dagang antara dua ekonomi raksasa dunia Amerika Serikat (AS) dan China. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, BI fokus memitigasi risiko yang dapat mengganggu ekonomi makro dan stabilitas keuangan domestik.

Dody menegaskan, BI siap selalu mempertimbangkan berbagai risiko tersebut. Pertimbangan terhadap faktor risiko juga menjadi bekal BI menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

“Risiko potensial, dari sumber mana pun, dihitung oleh BI dan akan dipertimbangkan dalam perumusan bauran kebijakan,” tuturnya.

Terkait pelemahan rupiah akibat sentimen negatif pasar, Dody mengatakan BI tetap berada di pasar untuk memastikan nilai rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya. Intervensi yang dilakukan BI meliputi intervensi di pasar spot, pasar SBN, maupun Domestic Non Delivery Forward (DNDF).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perlemahan mata uang China, yuan, terhadap dolar AS bisa mempengaruhi pergerakan mata uang lainnya. Darmin mengatakan perlemahan yuan erjadi sebagai dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang makin memanas.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan ekspor barang China ke pasar AS dan negara-negara lainnya menjadi lebih murah. Menurut Darmin, pemerintah belum bisa berandai-andai apabila perlemahan yuan tersebut terus berlanjut dan mempengaruhi kinerja perdagangan global ke depannya.

* * *

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Sukuk Tabungan seri ST005 hanya bisa dibeli selama masa penawaran 8-21 Agustus 2019. Meski masa penawaran belum dibuka, kita sudah bisa mendaftar terlebih dahulu untuk memesan ST005 di Bareksa.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi ST005? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan ST005.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli ST005? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

(KA02/AM)