Rabu, 07 Agustus 2019 01:58:49 WIB

Berita Hari Ini : Iuran BPJS Kesehatan Naik, Lelang SBSN Capai Rp18,05 Triliun

Mandiri Sekuritas jadi mitra distribusi SBSN ritel, indeks keyakinan konsumen optimistis, WSKT rilis obligasi Rp6,5 T
Issa Almawadi
Petugas melayani warga di kantor Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, DI Yogyakarta, Jumat (8/9). Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan, BPJS Kesehatan mengalami defisit hingga Rp9 tirliun karena 80 persen peserta atau masyarakat banyak yang sakit. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 7 Agustus 2019 :

Iuran BPJS


Pemerintah akan menaikkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kenaikan itu dikenakan bagi seluruh kelas yang ada di BPJS Kesehatan. Langkah tersebut diambil dengan melihat masalah defisit yang dialami BPJS Kesehatan saat ini.

"Kita pahami untuk itu sangat wajar iuran dinaikkan, (kenaikan) semua kelas," ujar Kepala Staff Presiden Moeldoko  seperti dikutip Kontan.

Kenaikan iuran seluruh kelas BPJS Kesehatan ditujukan untuk menutupi kekurangan saat ini. Moeldoko bilang saat ini beban yang ditanggung BPJS Kesehatan tidak seimbang. Selain itu, upaya tersebut juga untuk menambal defisit BPJS Kesehatan. Meski begitu belum ada kepastian berapa kenaikan iuran BPJS Kesehatan tersebut.

"Belum, itu nanti Kementerian Keuangan (Kemenkeu), semuanya akan terlibat," terang Moeldoko.

Lelang SBSN

Adanya tekanan di pasar obligasi Indonesia ternyata tidak terlalu mempengaruhi hasil lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara. Terbukti, nilai penawaran yang masuk pada enam seri sukuk negara yang di lelang kemarin justru mengalami peningkatan.

Berdasarkan keterangan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan yang dikutip Kontan, nilai penawaran yang masuk pada lelang sukuk negara kemarin mencapai Rp18,05 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan penawaran masuk di lelang sukuk negara dua pekan sebelumnya yakni Rp16,47 triliun.

Di sisi lain, kendati mampu menyerap dana hingga Rp8,03 triliun, pemerintah sebenarnya tidak begitu agresif. Hal ini tampak dari adanya dua seri yang tidak dimenangkan, yaitu seri PBS015 dan PBS021. Padahal, kedua seri ini masing-masing memperoleh penawaran sebesar Rp1,39 triliun dan Rp570 miliar.

Mandiri Sekuritas

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 125/PMK.08/2018 tentang Penerbitan dan Penjualan Surat Berharga Syariah Negara Ritel di Pasar Perdana Domestik, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko telah menetapkan PT Mandiri Sekuritas sebagai mitra distribusi dalam rangka penjualan SBSN ritel di pasar perdana domestik (layanan online).

Dengan demikian, terdapat 22 Mitra Distribusi yang akan membantu pemerintah untuk melayani pemesanan pembelian SBSN ritel secara langsung melalui sistem elektronik (layanan online). Dalam waktu dekat (Triwulan III 2019) pemerintah akan kembali melakukan penjualan Sukuk Tabungan seri ST005 secara online melalui bantuan 22 mitra distribusi.

Indeks Keyakinan Konsumen

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2019 mengindikasikan optimisme konsumen tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2019 tetap berada di level optimistis (di atas 100) yaitu 124,8, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan IKK bulan sebelumnya 126,4.

Optimisme konsumen yang tetap terjaga ditopang oleh ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan yang membaik. Hal ini terindikasi oleh Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang meningkat sejalan dengan tetap kuatnya ekspektasi konsumen terhadap kenaikan penghasilan ke depan.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat melemah dari bulan sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh menurunnya keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja.

Hasil survei juga mengindikasikan tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Januari 2020) diprakirakan meningkat. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 6 bulan mendatang sebesar 174,9, meningkat dari 170,3 pada bulan sebelumnya. Peningkatan itu disebabkan oleh tingginya permintaan pada awal tahun yang berdampak pada kenaikan harga barang. 

Pertumbuhan Ekonomi

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 tidak akan mencapai outlook APBN 2019 yakni 5,2 persen dan bahkan bakal di bawah 5,1 persen.

Hal ini karena tensi perang dagang yang kembali memanas di mana AS bakal menerapkan tarif 10 persen atas produk China yang mencapai US$300 miliar dan disusul dengan pelemahan yuan terhadap dolar AS.

"Bisa 5,1 persen sudah bagus dan bahkan prediksi kami 5 persen saja," ujar Wakil Direktur Indef Eko Listyanto seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Eko mengatakan dampak perang dagang yang kembali memanas ini tidak akan langsung berdampak kepada Indonesia, tetapi apabila berlanjut maka bagaimanapun dampaknya akan sampai ke Indonesia.

Produk China yang sedari awal sudah kompetitif akan semakin kompetitif dengan melemahnya Yuan sehingga ke depannya bukan tidak mungkin apabila barang China secara lebih masif bakal masuk ke Indonesia.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk

Perseroan berencana menerbitkan dua surat utang senilai Rp6,5 triliun selama paruh kedua 2019 guna melunasi utang lama dan modal pengembangan proyek baru.

Direktur Keuangan PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) Haris Gunawan mengatakan surat utang yang akan diterbitkan yaitu Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) IV senilai Rp3 triliun dan surat utang global setara Rp3,5 triliun.Obligasi dalam negeri akan diterbitkan lebih dahulu pada September 2019. Walhasil, rencana penerbitan surat utang paling banyak direncanakan Rp6,50 triliun.

"Ini PUB baru, PUB yang keempat. Total kami terbitkan Rp4,95 triliun, tapi tahun ini kami terbitkan Rp3 triliun dulu. Underwriter-nya keroyokan," ujar Haris seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Menurut Haris, perusahaan sekuritas yang akan menjadi penjamin pelaksana emisi (underwriter) antara lain PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, PT DBS Vickers Securities, dan PT BNI Securities.

(AM)