Rabu, 17 Juli 2019 15:47:32 WIB

Manulife Aset : Pasar Obligasi Berpotensi Upside

Sejak Januari hingga Juni 2019, pasar obligasi Indonesia telah menguat 8,21 persen
Kontributor Bareksa
Ilustrasi berinvestasi di obligasi (shutterstock)

Bareksa.com - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai, meredanya gejolak global akibat perang dagang dan kemungkinan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan akan menjadi faktor positif bagi pasar obligasi Indonesia. Pasar obligasi diprediksi akan menguat ke depannya.

Senior Portfolio Manager-Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief mengatakan sejak Januari hingga Juni 2019, pasar obligasi Indonesia telah menguat 8,21 persen.

"Kami melihat masih ada potensi lebih lanjut untuk pasar obligasi Indonesia," ujar dalam keterangan tertulis, Rabu (17/7).

Dia mengungkapkan, iklim pasar finansial saat ini sangat suportif bagi pasar obligasi domestik. Hal yang mendasari optimisme tersebut dari sisi eksternal adalah kebijakan The Fed yang lebih akomodatif.

Selain itu, dipengaruhi pula oleh berlanjutnya negosiasi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pemerintah AS juga setuju untuk mengendurkan restriksi bisnis terhadap perusahaan telekomunikasi China.

"Perkembangan ini mengindikasikan tensi antara kedua negara sedikit mereda, sehingga diharapkan negosiasi ke depannya bisa dilakukan dengan kepala dingin dan dapat lebih membuahkan hasil positif," kata dia.


Kendati memang, risiko perang dagang antara kedua belah pihak ini akan timbul kembali tidak bisa dihindari. Namun pasar sudah mulai memahami negosiasi antara kedua negara akan berlangsung panjang.

"Saat ini ekspektasi pasar telah beralih mengarah ke pandangan ini dan sudah mengantisipasi hanya ada kemungkinan kecil kalau kesepakatan tercapai dalam waktu dekat. Maka dari itu, apabila negosiasi dagang kembali memanas, kami perkirakan pasar tidak akan lagi terlalu terkejut seperti yang terjadi di bulan Mei lalu," kata dia.

Terlepas dari hal itu, Indonesia tetap bisa menangkap peluang dari kondisi global yang ada. Saat ini sekitar 29 persen dari obligasi di dunia atau sekitar US$12,5 triliun berada pada level imbal hasil negatif. Kondisi ini berpotensi mendorong investor mencari investasi yang masih menawarkan imbal hasil positif.

Pasar obligasi Indonesia dapat diuntungkan dari situasi ini karena obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang tinggi. Lagipula kondisi makro ekonomi Indonesia cukup mendukung dengan nilai tukar rupiah dan kondisi politik yang stabil.

"Gabungan semua hal itu menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi pasar obligasi domestik. Kesimpulannya, kami memandang masih ada upside potential untuk pasar obligasi Indonesia ke depannya," kata dia.

Dengan melihat kondisi tersebut, menurut Syuhada, investor sebaiknya mempertimbangkan untuk berinvestasi di reksadana yang memiliki underlying obligasi seperti reksadana pendapatan tetap atau reksadana campuran. Reksadana ini dinilai terjangkau dibandingkan investor harus membeli obligasi secara langsung.

"Reksadana obligasi juga dikelola oleh tim manajer investasi yang profesional dengan strategi pengelolaan aktif. Pengelolaan aktif artinya manajer investasi dapat merubah posisi lebih agresif atau lebih konservatif sesuai dengan outlook dan kondisi pasar terkini," jelas dia.

Sentimen Neraca Dagang

Sementara itu, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico mengatakan, data neraca perdagangan sangat mempengaruhi harga SUN pekan ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 15 Juli lalu merilis neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 surplus US$200 juta. Surplus neraca perdagangan kali ini, disebabkan oleh surplus nonmigas US$1,16 miliar, sementara defisit migas US$966,8 juta.

Menurut Nico, surplus neraca dagang akan menjadi hal yang sangat bagus karena memicu penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG). Sementara itu, dari luar negeri, hal yang mempengaruhi SUN pekan ini adalah beberapa data makro ekonomi Amerika Serikat, yaitu data empire manufacturing, retail sales advance dan data industrial production.

"Data indikator ekonomi ini menjadi penting sebelum pertemuan FOMC pada akhir bulan," ucap dia.

Tidak hanya dari AS, data inflasi Eropa juga akan dinanti investor pekan ini. Data inflasi ini akan menjadi stimulus terhadap pemangkasan tingkat bunga acuan bank sentral Eropa. Nico mengungkapkan, apabila The Fed dan Eropa benar-benar akan memangkas tingkat suku bunga mereka maka dana asing berpeluang masuk ke Indonesia.

"Ketika itu terjadi, investasi di negara emerging market yang memiliki tingkat volatilitas yang tinggi akan menjadi pilihan, tidak terkecuali Indonesia," ujar dia.

Sentimen-sentimen tersebut akan membuat pergerakan harga SUN meningkat. Akibatnya, yield SUN pekan ini berpotensi menurun. Untuk tenor 5 tahun, Nico memprediksi yield SUN berada di angka 6,55-6,68 persen.

Sementara untuk tenor 10 tahun, yield akan berpotensi menuju 7,15 persen. Sedangkan untuk tenor 15 tahun, yield akan berada di rentang 7,46-7,56 persen dan untuk tenor 20 tahun di angka 7,71-7,82 persen.

Di antara seri SUN tersebut, Nico menilai, seri obligasi acuan masih akan menjadi minat para investor. Seri obligasi ini akan menjadi pendorong bagi pergerakkan obligasi lainnya.

"Calon obligasi acuan untuk tenor 15 tahun tentu juga akan diminati, yaitu fixed rate (FR) 80, FR 77, FR 78, FR 68, FR 79, dan FR 80," papar dia.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pembelian produk investasi yang dijamin pemerintah ini hanya bisa dilakukan pada periode penawaran SBR007, yakni 11-26 Juli 2019.

Meski masa penawaran belum dibuka, kita sudah bisa mendaftar terlebih dahulu untuk memesan SBR007 di Bareksa. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBR007? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBR007.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBR007? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.