Rabu, 17 Juli 2019 10:05:05 WIB

Jika BI Pangkas Suku Bunga, Lima Reksadana Ini Bisa Jadi Pilihan

Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari pada 17-18 Juli 2019
Muhammad Ikhsan B
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto (kanan) dan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara (kiri) memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/6/2019). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Bareksa.com - Mulai hari ini, para petinggi Bank Indonesia melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari atau 17-18 Juli 2019.

Merespons hal tersebut, keadaan pasar pun bergerak dinamis, dimana IHSG ditutup melemah 0,26 persen ke level 6.401,88 pada perdagangan kemarin (16/7). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,14 persen, di mana US$1 dibanderol Rp13.935 saat penutupan di pasar spot.


Sedangkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun terbatas 1,9 basis poin (bps) ke 7,103 persen pada perdagangan kemarin. Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan.

Suku Bunga AS Berpotensi Turun

Pelaku pasar terlihat akan menahan diri untuk melihat respons dari Bank Indonesia setelah Bank Sentral AS (The Fed) telah mengirimkan kode keras akan adanya penurunan federal funds rate/FFR (suku bunga acuan AS) dalam pertemuan akhir bulan ini.

Seperti yang diketahui, pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell memberikan testimoninya di hadapan Komite Jasa Perbankan DPR AS (House Financial Services Committee) terkait laporan kebijakan moneter semi tahunan.

Dalam paparannya Powell tampak cukup pesimistis karena mengulang kata 'ketidakpastian' hingga 26 kali, mengutip CNBC International. 'Ketidakpastian' yang diucapkan Powell mengacu kepada berbagai macam hal, seperti prospek perekonomian AS, rendahnya tekanan inflasi, perang dagang AS-China, hingga konsumsi rumah tangga. Belum lagi rilis risalah rapat The Fed bulan lalu semakin mengonfirmasi tingginya probabilitas pemangkasan FFR.

Surplus Dua Bulan Terakhir Berpotensi Bawa Suku Bunga BI Turun

Rilisnya data surplus neraca dagang di bulan Mei dan Juni berpotensi menjadi salah satu katalis positif dalam RDG di bulan ini. Hal itu akan membuat tekanan di transaksi berjalan (current account) mereda, sehingga BI lebih nyaman untuk melonggarkan kebijakan moneter. Hal ini dikarenakan posisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) masih dianggap cukup untuk dapat menopang kinerja rupiah.

Menurut analisis Bareksa, ekonomi Indonesia sudah berada di peak atau puncak kenaikan suku bunga, sehingga sudah saatnya memasuki tren penurunan suku bunga, sehingga dirasa perlu mendapatkan stimulus baru dan itu bisa berasal dari pelonggaran kebijakan moneter.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan global, serta ekspektasi penurunan suku bunga acuan di AS, kami memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga acuan setidaknya di Kuartal III 2019.

Jika Suku Bunga Turun, Reksadana Ini Bisa Jadi Pilihan

Menurut analisis Bareksa, penurunan suku bunga di AS akan memberikan dampak positif terhadap pergerakan harga obligasi pemerintah di Indonesia. Namun bagi investor ritel, surat berharga tidak dapat dibeli dengan nilai Rp100.000. Lantas, adakah reksadana pendapatan tetap yang mempunyai isi obligasi pemerintah dan tersedia di Bareksa?

Daftar Reksadana Pendapatan Tetap Return Tertinggi 1 Bulan Terakhir (per 16 Juli 2019)

Sumber : Bareksa

Per 16 Juli 2019, benchmark obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun berada di level 7,1 persen, setelah sebelumnya pada 31 Mei 2019 sempat berada di level 8 persen.

Hal ini tentu berdampak baik terhadap reksadana pendapatan tetap dengan top holdings portfolio didominasi oleh obligasi pemerintah, seperti reksadana yang ada dalam tabel tersebut.

Lima reksadana tersebut mempunyai return tertinggi dalam 1 bulan terakhir. Hal ini merupakan imbas dari kenaikan harga obligasi pemerintah. Jika tingkat suku bunga acuan benar dipangkas nantinya, tingkat suku bunga kredit akan ikut melandai yang tentunya akan memberi insentif bagi dunia usaha untuk melakukan ekspansi.

Masyarakat juga akan terdorong untuk meningkatkan konsumsinya. Pada akhirnya, laju perekonomian bisa terdongkrak naik.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.