Rabu, 17 Juli 2019 12:05:43 WIB

Dana Kelolaan Industri Reksadana Syariah Anjlok 8,23 Persen pada Juni, Kenapa?

AUM industri reksadana syariah terkoreksi 8,23 persen secara year to date pada Juni 2019 menjadi Rp33,5 triliun
Abdul Malik
Ilustrasi investasi di reksadana syariah (shutterstock)

Bareksa.com - Dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksadana syariah anjlok 8,23 persen secara year to date pada Juni 2019 menjadi Rp33,5 triliun dibandingkan Rp36,5 triliun pada Desember 2018.

Berdasarkan laporan "Mutual Fund Industry : Data Market - Monthly Report June 2019" Bareksa yang mengutip data Otoritas Jasa Keuangan, penurunan itu akibat anjloknya dana kelolaan di reksadana saham syariah yang longsor 19 persen secara year to date, reksadana campuran syariah minus 9 persen, serta reksadana terproteksi syariah turun 6 persen.


Adapun AUM reksadana pasar uang syariah membukukan kenaikan 37 persen dan reksadana pendapatan tetap syariah bertambah 4 persen.

Per Juni 2019. reksadana saham syariah masih menjadi kontributor mayoritas atau menyumbang 51 persen terhadap total AUM industri reksadana syariah.

Selanjutnya reksadana pendapatan tetap menyumbang 20 persen, reksadana pasar uang syariah 12 persen, reksadana campuran syariah 11 persen, terproteksi 5 persen, serta indeks dan ETF 1 persen.

Dana Kelolaan Industri Reksadana Syariah

Jumlah Unit Reksadana Syariah

Jumlah Produk Reksadana Syariah


Sumber : "Mutual Fund Industry : Data Market - Monthly Report June 2019" Bareksa

Meskipun terjadi penurunan dana kelolaan, sejatinya dari sisi jumlah unit dan jumlah produk reksadana syariah mengalami peningkatan masing-masing 10,1 persen dan 14,3 persen.

Pada Juni 2019, jumlah unit reksadana syariah sebanyak 27,6 juta, naik dari 25 juta unit pada Desember 2018. Senada, jumlah produk reksadana juga naik dari 216 reksadana per Desember 2018 menjadi 247 reksadana pada Juni 2019. 

Indeks Reksadana Syariah

Sepanjang semester I 2019, kinerja reksadana saham syariah menjadi yang terburuk dibandingkan dengan ketiga jenis reksadana syariah lainnya. Hingga akhir Juni, indeks reksadana saham syariah merosot atau negatif hingga 8,27 persen year to date (YtD).


Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, dari 17 reksadana saham syariah yang dijual Bareksa, 13 di antaranya atau 76,47 persen masih mampu mencatatkan kinerja di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 2,65 persen YtD.

Menurut analisis Bareksa, anjloknya kinerja reksadana saham syariah secara umum dipengaruhi oleh efek domino perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang masih memanas, terutama saat bulan Mei.

Adapun untuk prospek reksadana saham syariah di semester II 2019 selanjutnya bergantung pada tren ekonomi global. Adanya pergerakan dari The Fed selaku bank sentral AS dan PBOC selaku bank sentral China untuk menggenjot ekonomi di negaranya masing-masing, perlu diikuti oleh pihak regulator domestik yakni Bank Indonesia.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sementara reksadana syariah adalah reksadana yang hanya dapat berinvestasi di efek keuangan yang sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah, dan tentunya masih terikat dengan batasan investasi yang ditetapkan oleh OJK.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa: Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report June 2019. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.