Rabu, 10 Juli 2019 08:19:25 WIB

Berita Hari Ini : Insentif Pajak Hingga 300 Persen, Lelang SBSN Masih Besar

Sinar Mas di Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG tersisa 12,5 persen, BMRI incar multifinance di Filipina dan Vietnam
Issa Almawadi
Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tingkat menteri mengenai Evaluasi Kebijakan Penurunan Tarif Angkutan Udara di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (8/7/2019).

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 10 Juli 2019 :

Insentif Pajak


Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 yang mengatur pemberian insentif super deduction 200 persen bagi pelaku usaha dan pelaku industri yang melakukan kegiatan vokasi.

Selain insentif super deduction untuk kegiatan vokasi, dalam PP tersebut juga diatur kebijakan insentif super deduction untuk kegiatan penelitian dan pengembangan 300 persen. Tak hanya itu, insentif investment allowance juga diberikan untuk industri padat karya yang memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.

“Dengan demikian, pelaku usaha dan pelaku industri diharapkan dapat terdorong meningkatkan peran dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, berdaya saing, serta sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Insentif super deduction untuk kegiatan vokasi merupakan fasilitas pajak penghasilan dalam bentuk pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan vokasi.

PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE)

Perseroan resmi mencatatkan saham perdana (listing) 393,75 juta. Jumlah tersebut setara dengan 37,5 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga IPO Rp12.100 per saham. LIFE meraup Rp4,76 triliun dari IPO.

Pencatatan saham ini tidak membuahkan dana segar untuk LIFE. Sebab saham yang dilepas bukan saham baru, melainkan divestasi saham pemilik lama PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).

"Sinar Mas Multiartha selaku pemegang saham melepas saham kepada publik melalui penawaran umum perdana," ujar Direktur Utama LIFE Hamid Hamzah.

Dengan demikian, porsi permodalan di LIFE menjadi bergeser. Sebelum penawaran, SMMA menguasai 50 persen saham LIFE, sedangkan sisanya dimiliki oleh Mitsui Sumitomo Insurance.

Dengan aksi divestasi, kepemilikan Sinar Mas Multiartha atas saham LIFE tinggal 12,5 persen. Saat ini, struktur modal terbesar LIFE dimiliki oleh Mitsui Sumitomo Insurance, perusahaan asuransi berasal dari Jepang.

SBSN

Lelang surat berharga syariah negara (SBSN) alias sukuk negara terbilang sukses. Namun terjadi penurunan pada nilai penawaran masuk. Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu merilis nilai penawaran masuk pada lelang sukuk kemarin Rp36,43 triliun.

Pemerintah menyerap Rp8 triliun dari total penawaran. Jumlah ini turun dari dua pekan sebelumnya, Rp40,19 triliun. Seperti dikutip Kontan, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut nilai penawaran masuk pada lelang hari ini sebenarnya tetap tergolong besar.

Sebab, di tiga lelang surat berharga negara (SBN) terakhir, penawaran masuk selalu mencapai angka di atas Rp30 triliun. Joshua berpendapat, pelemahan rupiah dalam dua hari terakhir cukup mempengaruhi minat investor di lelang kali ini. Di saat yang sama, yield surat utang negara (SUN) meningkat.

Lihat saja, yield SUN seri acuan 10 tahun kemarin mencapai 7,23 persen. Akhir pekan lalu, yield SUN masih di level terendah tahun ini yakni 7,2 persen.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)

Rencana perseroan berekspansi hingga ke Filipina dan Vietnam tak melulu hanya untuk mengakuisisi bank. Bank milik negara ini juga berencana membidik perusahaan pembiayaan atau multifinance di negara-negara itu.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan Bank Mandiri ingin mengembangkan bisnis kredit kendaraan bermotor (KKB). Pertimbangan utama lantaran Bank Mandiri memang cukup mengerti bisnis ini. Meski demikian, Rohan bilang rencana ekspansi ke negara-negara tetangga tersebut membutuhkan waktu panjang.

"Paling cepat, proses baru akan rampung dua tahun mendatang," ujarnya seperi dikutip Kontan.

Bank berlogo pita emas ini mengaku harus melewati banyak tahapan, terlebih calon perusahaan yang hendak diakuisisi di luar Indonesia. Saat ini. Bank Mandiri mengaku masih mencari-cari calon perusahaan yang hendak diakuisisi.

UMKM

Bank Indonesia akan memberi arahan atau roadmap pendampingan bagi semua kantor perwakilan dalam membina usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) siap ekspor dan berbasis digital.

Kepala Departemen Pengembangan UMKM Bank Indonesia Budi Hanoto mengatakan dari total 898 UMKM binaan Bank Indonesia yang tersebar di 46 kantor perwakilan, baru 662 UMKM yang sudah melalui proses pendampingan dari hulu ke hilir.

Menurut Budi, BI akan menyusun arahan pasti bagi kantor perwakilan untuk mengembangkan UMKM binaan.

Dia menilai upaya ekspor produk UMKM cukup urgen untuk bisa membantu pertumbuhan ekonomi dan menambah cadangan devisa. Namun standar kualitas masih menjadi agenda BI dalam mencapai UMKM berkualitas ekspor.

Karena itu, setiap kantor perwakilan BI perlu punya strategi jangka panjang dalam mengatasi penambahan permintaan atau demand produk ekspor. BI perlu mempertimbangkan kebutuhan bahan baku dan menggenjot hasil produksi.

GWM

Langkah Bank Indonesia melonggarkan Giro Wajib Minimum 50 bps guna mendorong pertumbuhan kredit tak sejalan dengan realisasi di lapangan. Alih-alih ekspansi kredit, beberapa bank lebih memilih membeli surat berharga.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Hafas misalnya menyatakan tambahan likuiditas yang didapat bank berlogo pita emas akan digunakan untuk penempatan ke surat berharga.

“Tambahan likuiditas dari pelonggaran GWM tak membuat kredit lebih ekspansif. Lebih ke instrumen pasar uang, ada yang bisa kita beli MTN, obligasi jangka pendek sebelum disalurkan ke kredit,” katanya.

Bank Mandiri sendiri diprediksi akan mendapatkan likuiditas tambahan senilai Rp4 triliun dari kebijakan pelonggaran GWM tersebut. Rohan menjelaskan langkah tersebut diambil perseroan lantaran Bank Mandiri masih memandang pasar yang belum terlalu kondusif.

“Karena melihat pasar, kami tidak mengoreksi RBB (rencana bisnis bank). Target pertumbuhan kredit kami masih 11 persen,” lanjutnya.

(AM)