Selasa, 25 Juni 2019 11:10:17 WIB

Benchmark Bunga Deposito Mei 6,13 Persen, Reksadana Ini Untung Lebih Tinggi

Tren kenaikan suku bunga simpanan terpantau sudah menunjukkan level yang stabil dan memiliki peluang untuk menurun
Issa Almawadi
Ilustrasi berinvestasi di reksadana pasar uang (shutterstock)

Bareksa.com – Indikator Likuiditas Juni 2019 yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan rata-rata tingkat bunga deposito rupiah (22 moving daily average) bank benchmark LPS pada akhir Mei 2019 mencapai 6,13 persen. Angka itu turun 1 bps dari posisi akhir April 2019.

Sementara rata-rata suku bunga minimum naik 1 bps ke posisi 5,04 persen dan suku bunga maksimal turun 2 bps ke posisi 7,23 persen. Di sisi lain, tingkat bunga deposito valas pada periode yang sama cenderung menunjukan penurunan, untuk rata-rata dan minimal turun masing masing 1 dan 3 bps.


LPS menyampaikan secara umum tren kenaikan suku bunga simpanan terpantau sudah menunjukkan level yang stabil dan memiliki peluang untuk menurun.

Tren kenaikan lanjutan pada suku bunga simpanan perbankan telah berakhir seiring berakhirnya kenaikan Bank Indonesia 7-day reverse repo rate (BI7DRR) dan adanya perbaikan kondisi likuiditas yang selanjutnya memberikan ruang tambahan bagi perbankan.

“Sinyal penurunan suku bunga deposito untuk semua tenor dan kelompok diperkirakan berlanjut sejalan dengan upaya bank memperbaiki net interest margin (NIM) yang cenderung menurun,” tulis LPS dalam laporannya.

Selain itu, adanya kenaikan terbatas pada beberapa bank dan kelompok lebih bersifat penyesuaian dan termporer sehingga diperkirakan tren bunga antar bank lebih stabil.

Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR tetap 6 persen. Keputusan ini diikuti dengan menurunkan giro wajib minimum (GWM) rupiah dalam upaya menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam pembiayaan ekonomi.

Selanjutnya BI akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

LPS berpandangan, laju kenaikan BI7RR sudah mencapai peak dan potensial untuk menurun seiring perubahan arah The Fed yang lebih dovish dan upaya memberikan ruang kebijakan akomodatif menghadapi risiko perlambatan ekonomi.

“Ruang rencana pelonggaran perlu memperhatikan risiko volatilitas di pasar keuangan dan risiko efek perang dagang yang potensial mempengaruhi kinerja neraca transaksi berjalan,” tambah LPS.

Seiring dengan dipertahankannya BI7DRR, arah suku bunga antar bank (JIBOR) diperkirakan bergerak dalam range terbatas merespons kondisi likuiditas yang relatif stabil.

Reksadana Pasar Uang

Melihat tren bunga deposito perbankan hingga Mei 2019 tersebut, sebanyak 12 produk reksadana pasar uang yang dijual Bareksa.com memiliki return tahunan yang jauh lebih tinggi. Salah satu reksadana pasar uang yang memberi return paling tinggi yakni Prospera Dana Lancar.

Return tahunan reksadana racikan PT Prospera Asset Management ini mencapai 7,06 persen lebih tinggi 93 basis poin atau 0,93 persen dari rata-rata bunga deposito bank benchmark LPS yang sebesar 6,13 persen.

Hingga Mei 2019, Prospera Dana Lancar memiliki dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp205,18 miliar. Angka ini naik 16,72 persen dari posisi akhir 2018 yang sebesar Rp175,78 miliar.

Dana Kelolaan Prospera Dana Lancar Hingga Mei 2019

Sumber: Bareksa.com

Prospera Dana Lancar yang punya kebijakan investasi 100 persen pada instrumen pasar uang, bertujuan untuk memperoleh pendapatan yang optimal berupa pertumbuhan nilai investasi dan memberikan tingkat likuiditas yang tinggi guna memenuhi kebutuhan dana tunai dalam waktu yang relatif singkat.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.