Rabu, 27 Maret 2019 09:10:37 WIB

BI Tenang Hadapi Resiko Resesi AS, IHSG Menguji Level Resisten 6.505

Pendapatan PWON naik 23 persen, proses Brexit masih buntu
Muhammad Ikhsan B
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (27/11/2018). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Menguat 0,92 persen pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa, 26 Maret di level 6.470. Bangkitnya IHSG setelah koreksi yang cukup signifikan sehari sebeIumnya.

Seluruh sektor mengalami kenaikan terutama industri dasar (1,81 persen) pada perdagangan kemarin. Saham BBRI, BMRI dan HMSP menjadi market leader sedangkan saham FREN, GIAA dan SMMA menjadi market laggard. Penguatan IHSG terjadi seiring dengan bursa regional di tengah kecemasan akan resesi AS.


Wall Street ditutup menguat dengan indeks DJIA naik 0,55 persen, S&P 500 naik 0,72 persen dan Nasdaq naik 0,71 persen. Saham perbankan menguat setelah imbal hasil obligasi AS mulai stabil di atas level terendah dalam 15 bulan terakhir.

Sebelumnya, inversi yield obligasi AS menimbulkan kecemasan akan potensi resesi dalam satu atau dua tahun ke depan. Adapun saham energi menguat setelah harga minyak dunia naik dipicu oleh upaya pengurangan pasokan oleh OPEC dan ekspektasi persediaan yang lebih rendah di AS.

Selain itu, pasar juga memperhatikan angka kepercayaan konsumen yang lemah untuk bulan Maret, serta data perumahan yang menunjukkan pembangunan kembali AS turun lebih dari yang diharapkan pada bulan Februari.

IHSG Menguji Resisten 6.505

IHSG pada perdagangan kemarin mampu ditutup menguat berada di level 6,470. Indeks berpeluang mengalami konsolidasi dan bergerak menguji resistance level 6,505 hingga 6,540.

MACD berada pada kecenderungan manguat, namun stochastic yang meninggalkan wilayah oversold berpotensi menghambat laju penguatan indeks yang jika berbalik melemah dapat menguji 6,425.

BI tenang Hadapi Resiko Resesi AS

Dalam sepekan terakhir, resiko resesi AS yang meningkat, membayangi para pembuat kebijakan. Namun demikian, Bank Indonesia (BI) tidak terlalu merasa khawatir bahwa resesi AS akan datang dalam waktu dekat.

Menurut Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, ekonomi AS masih akan cenderung solid, meskipun tidak sebaik yang diperkirakan. Ia juga meyakinkan BI selalu berusaha memonitor kondisi pereknomian global agar dapat menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Proses Brexit Masih Buntu

Menjelang disahkannya Brexit pada 29 Maret mendatang, hingga saat ini belum ada kesepakatan antar anggota parlemen Inggris Raya terkait isu antisipasi resiko Brexit. Kemarin, parlemen Inggris mengambil alih proses implementasi Brexit dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May.

Pengambilalihan ini kembali menimbulkan ketidakpastian dari sisi investor maupun pengusaha, dan menimbulkan spekulasi bahwa “no-deal Brexit” akan terjadi.

Pendapatan PWON Naik 23 Persen

PT Pakuwon Jati (PWON) membukukan pendapatan bersih 2018 senilai Rp7,08 triliun, meningkat 23 persen dari 2017 senilai Rp5,74 triliun.

Minarto, Direktur Independen sekaligus Sekretaris Perusahaan PWON mengungkapkan perseroan konsisten dengan strategi perseroan untuk tumbuh dengan komposisi pendapatan yang berimbang antara recurring dan development revenue.

Recurring revenue (pendapatan berulang) 2018 mencapai Rp3,46 triliun naik 16,1 persen dibandingkan dengan 2017 yang sebesar Rp2,98 triliun, ditunjang oleh antara lain kenaikan pendapatan yang sudah beroperasi secara penuh dari pusat perbelanjaan Pakuwon Mall tahap 2 dan 3 yang telah dibuka Februari 2017 dan Tunjungan Plaza Mall tahap 6 yang dibuka September 2017 serta tambahan pendapatan organic dari pusat-pusat perbelanjaan ritel dan hotel-hotel existing perseroan.

Sementara itu, development revenue PWON 2018 mencapai Rp3,61 triliun naik 30,8 persen dibandingkan dengan 2017 yang sebesar Rp2,76 triliun, karena pengakuan pendapatan dari apartemen Anderson Pakuwon Mall Phase 4 serta penjualan rumah di Pakuwon City Surabaya.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.