Rabu, 27 Maret 2019 08:29:44 WIB

Berita Hari Ini : Penjualan SR-011 Rp21,11 Triliun, Saratoga Rugi Rp6,2 Triliun

PLN cari pendanaan Rp50 triliun, BULL akan rilis obligasi Rp2,8 triliun, RUPS setujui merger BDMN dan BBNP
Peluncuran Sukuk Tabungan seri ST002 sekaligus perayaan 10 tahun Sukuk Negara di Kementerian Keuangan. (bareksa)

Bareksa.com - Berikut informasi terkini seputar ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi yang disarikan dari berita media massa dan informasi keterbukaan Bursa Efek Indonesia, Rabu, 27 Maret 2019 :

Kementerian Keuangan

Penjualan Sukuk Ritel Seri SR-011 laku keras mencapai Rp21,11 triliun, atau 2,11 kali di atas target pemerintah yang sebesar Rp10 triliun.

Rilis Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan generasi baby boomers masih menjadi pembeli terbanyak sukuk ritel tersebut yaitu 12.774 orang dari total pembeli 35.026 orang (36,5 persen).

Berdasarkan pengelompokan DJPPR, generasi baby boomers didefinisikan sebagai investor yang lahir pada periode tahun 1946-1964 atau dengan usia 55 tahun-73 tahun.

PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)


Emiten pelayaran, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) berencana menerbitkan surat utang atau obligasi senilai US$200 juta atau setara dengan Rp2,8 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS).

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (26/3/2019), surat utang tersebut bakal diterbitkan di luar negeri dengan tujuan untuk meningkatkan likuiditas, diversifikasi pendanaan, dan memperoleh pendanaan lebih panjang dengan bunga tetap.

Surat utang tersebut memiliki tingkat bunga 6,5 persen-12,5 persen dengan jangka waktu 5 tahun sejak diterbitkan.

PT Saratoga Investama Tbk (SRTG)

PT. Saratoga Investama Tbk (SRTG) sepanjang tahun lalu masih mencatatkan rugi bersih Rp6,2 triliun. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang terjadi pada kinerja pasar saham di tahun lalu yang berdampak pada kinerja saham dari portofolio investasi perusahaan.

Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya mengatakan meskipun fundamental perusahaan tetap kuat sepanjang tahun, terdapat faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga, melemahnya mata uang dan harga komoditas yang fluktuatif telah memberikan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan berakibat negatif untuk kinerja harga saham dari portofolio investasi.

"Perusahaan menutup tahun 2018 dengan rugi bersih Rp6,2 triliun. Kerugian itu belum direalisasi dan terutama didorong oleh pergerakan harga saham mark-to-market PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)," kata Michael dalam siaran persnya, Selasa (26/3/2019).

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)

PT Bank Danamon Tbk (BDMN) bakal membagikan dividen 35 persen dari laba bersih 2018 setelah pajak. Tahun lalu perusahaan mencatat laba sejumlah Rp3,92 triliun, jadi pembagian keuntungannya setara Rp143,22 per lembar saham.

Keputusan tersebut diambil usai perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan  hari ini, Selasa (26/3). Dalam rapat di Menara Danomon, Jakarta, itu, semua sepakat untuk mengalokasikan satu persen laba bersih sebagai cadangan umum.

"Sisa dari laba bersih akan dibukukan sebagai laba ditahan oleh Danamon," seperti dikutip dari siaran pers usai rapat tersebut.

Di waktu bersamaan, Danamon juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat itu menyetujui rencana penggabungan usaha antara perusahaan dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP). Danamon nantinya bertindak sebagai bank hasil penggabungan.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN berencana mencari pendanaan eksternal Rp40 triliun hingga Rp 50 triliun tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expanditure/capex) yang dianggarkan tahun ini Rp90 triliun.

"Pilihan pendanaan kita ini tidak terpaku pada satu saja instrumen keungan. Bisa global bond, local bond, dana (pinjaman) bank, syariah, atau sukuk," kata Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto di Jakarta, Selasa (26/3).

PLN bakal mencari pendanaan di waktu yang tepat sehingga belum bisa memastikan kapan bakal menerbitkan instrumen tersebut. Dengan demikian, juga diharapkan dapat memberi hasil yang baik bagi perusahaan.

Dia mengaku, hingga saat ini kebutuhan untuk investasi mereka di 2019 masih bisa didanai dengan dana internal perusahaan.

(AM)