Selasa, 26 Maret 2019 07:32:08 WIB

IHSG Anjlok Tertekan Sentimen Sinyal Resesi Ekonomi AS, Bagaimana Peluangnya?

Pada perdagangan kemarin (25/03) IHSG ditutup anjlok 1,75 persen di level 6.411
Arief Budiman
Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/11/2018). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam kemarin (25/03) menyusul sentimen adanya sinyal resesi ekonomi di AS. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bareksa.com - Mengawali perdagangan pekan terakhir di bulan Maret 2019, pasar saham Indonesia mengalami tekanan cukup berat hingga harus berakhir di zona merah dengan penurunan dalam.

Performa bursa saham domestik senada dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga terkapar di zona merah. Indeks Nikkei (Jepang) anjlok 3,01 persen, Indeks Shanghai (Chinga) merosot 1,97 persen, Indeks Hang Seng (Hong Kong) jatuh 2,03 persen, Indeks Straits Times (Singapura) turun 1,06 persen, dan Indeks Kospi (Korea) amblas 1,92 persen.


Kekhawatiran mengenai datangnya resesi di Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia memicu aksi jual besar-besaran atas instrumen berisiko seperti saham.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Sinyal datangnya resesi di Negeri Adidaya datang dari pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang menunjukkan adanya inversi. Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan dengan tenor panjang.

Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pasti lebih berisiko dibandingkan dengan tenor pendek, sehingga kompensasi imbal hasilnya pun akan lebih tinggi.

Lantas, terjadinya inversi mencerminkan bahwa pelaku pasar melihat risiko yang tinggi dalam jangka pendek yang membuat mereka meminta yield yang tinggi sebagai kompensasi.

Sebelumya pada tanggal 3 Desember 2018, sinyal awal datangnya resesi muncul yakni inversi pada tenor 3 dan 5 tahun. Melansir data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan tanggal 3 Desember 2018, yield obligasi AS tenor 3 tahun berada di level 2,844 persen, sementara untuk tenor 5 tahun berada di level 2,839 persen.

Dalam 3 resesi terakhir yang terjadi di AS (1990, 2001, dan 2007), selalu terjadi inversi pada tenor 3 dan 5 tahun. Mengutip Bespoke, dalam 3 resesi terakhir, inversi pertama pada tenor 3 dan 5 tahun datang rata-rata 26,3 bulan sebelum resesi terjadi.

Namun, konfirmasi datang atau tidaknya resesi baru akan datang jika terjadi inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun. Pasalnya, inversi pada tenor 3 dan 5 tahun selalu diikuti oleh inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun terlebih dahulu sebelum resesi benar-benar terjadi.

Menurut kajian dari Bespoke, secara rata-rata inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun terjadi 89 hari pasca inversi pada tenor 3 dan 5 tahun. Jika dilihat rentang waktunya, tenor 3 bulan dan 10 tahun mengalami inversi dalam 19-173 hari.

Tepat pada hari Jumat kemarin (22/03/2019), tenor 3 bulan dan 10 tahun pada akhirnya mengalami inversi. Melansir data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan tanggal 22 Maret 2019, yield obligasi AS tenor 3 bulan berada di level 2,462 persen, sementara untuk tenor 10 tahun berada di level 2,455 persen.

Jika dihitung, terdapat waktu selama 109 hari dari awal terjadinya inversi pada tenor 3 dan 5 tahun (03/12/2018) hingga inversi tenor 3 bulan dan 10 tahun terjadi (22/03/2019) atau masih sejalan dalam rentang waktu dalam 3 resesi terakhir.

Melansir Bloomberg, jika sudah terdapat inversi tenor 3 bulan dan 10 tahun, resesi bisa datang dalam waktu sekitar 18 bulan.

Pada Senin, 25 Maret 2019 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,75 persen berakhir di level 6.411,25. Aktivitas transaksi pada perdagangan kemarin berlangsung cukup ramai, di mana tercatat 13,42 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi yang mencapai Rp8,08 triliun.

Secara sektoral, seluruhnya kompak berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, dengan tiga sektor yang mengalami penurunan terdalam yakni konsumer (-2,77 persen), aneka industri (-2,45 persen), dan manufaktur (-2,23 persen).

Beberapa saham yang menekan IHSG kemarin :

1. Saham ICBP (-9 persen)
2. Saham BMRI (-3 persen)
3. Saham UNVR (-2,5 persen)
4. Saham ASII (-2,8 persen)
5. Saham GGRM (-4,8 persen)

Sebanyak109 saham menguat, 315 saham melemah, dan 109 saham tidak mengalami perubahan harga. Di sisi lain, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) di seluruh pasar pada perdagangan kemarin senilai Rp81,89 miliar.

Saham-saham yang terbanyak dilepas investor asing :

1. Saham ASII (Rp199,76 miliar)
2. Saham BBCA (Rp53,66 miliar)
3. Saham ICBP (Rp51,78 miliar)
4. Saham UNVR (Rp42,36 miliar)
5. Saham BMRI (Rp36,57 miliar)

Analisis Teknikal IHSG


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle IHSG pada perdagangan kemarin membentuk bearish candle disertai short lower shadow yang menggambarkan pergerakan IHSG mengalami tekanan berat meskipun sedikit ada perlawanan hingga tidak berakhir di level terendahnya.

Open gap down yang terbentuk kemarin menandakan adanya tekanan sejak awal perdagangan. Selain itu, pergerakan kemarin menembus garis middle bollinger band yang mengindikasikan adanya potensi koreksi lebih lanjut.

Indikator relative strength index (RSI) juga terlihat turun tajam, mengindikasikan adanya momentum penurunan yang cukup kuat. Dilihat dari sudut pandang teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi kembali mengalami tekanan.

Di sisi lain, kondisi bursa saham Wall Street yang ditutup relatif datar pada perdagangan kemarin diperkirakan tidak akan banyak membantu untuk mengangkat kinerja IHSG pada perdagangan hari ini.

Indeks Dow Jones naik tipis 0,06 persen, kemudian S&P 500 terkoreksi 0,07 persen, dan Nasdaq Composite berkurang 0,08 persen.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.