Senin, 25 Maret 2019 15:27:43 WIB

Bahana : Ruang Penurunan Yield Surat Berharga Negara Masih Terbuka

Bahana menilai, yield surat utang negara akan tetap rendah di kisaran 7,6 persen sepanjang 2019
Gita Rossiana
Direktur utama PT Bahana Sekuritas, Feb Sumandar bersama Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu, Dwi Irianti Hadiningdyah, Managing Director, Islamic Finance News, Andrew Morgan, dan Business & Development Director Islamic Finance News Rex Pointon di acara Islamic Finance News-Deal of The Year 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia (21/03).(Dok Bahana)

Bareksa.com - Kestabilan pasar keuangan domestik yang masih terjaga seiring dengan berkurangnya tekanan dari pasar global dan membaiknya fundamental perekonomian memberi peluang bagi penurunan yield surat berharga negara (SBN). Sebelumnya yield SBN sempat melonjak naik sejak awal tahun lalu akibat pembalikan dana yang dilakukan investor asing dari sejumlah negara Asia termasuk Indonesia.

Yield surat berharga negara menjadi salah satu yang tertinggi, meski inflasi terjaga stabil di kisaran 3 persen. Namun bank sentral harus menaikkan tingkat suku bunga acuan atau yang lebih dikenal dengan BI 7-Day Repo Rate dari 4,25 persen pada April 2018 menjadi 6 persen sejak November 2018 dan menahan suku bunga pada level tersebut hingga saat ini.


Menurut Bahana Sekuritas, yang merupakan anak usaha perusahaan pelat merah PT Bahana PUI, membaiknya kondisi global dan kebijakan moneter yang diambil oleh The Fed kini lebih terukur dengan mempertahankan suku bunga acuan serta perang dagang antara Amerika Serikat dan China untuk sementara masih terhenti.

Sementara itu dari sisi domestik, pemulihan ekonomi diperkirakan masih akan berlanjut, dengan proyeksi defisit transaksi berjalan di kisaran 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dibanding tahun lalu.

"Surat berharga Indonesia salah satu yang menarik di dunia, hal ini tercermin saat pemerintah menjual sukuk global pada Februari lalu, kelebihan permintaan hampir 4 kali, bahkan karena oversubscribed, yield diturunkan,’’ kata Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar, yang bertindak sebagai co-manager atas penerbitan Green Sukuk Global Pemerintah Indonesia.  

Pada Februari lalu, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) III senilai US$7,5 juta tenor 5,5 tahun dengan yield 3,9 persen dan US$1,25 miliar untuk tenor 10 tahun dengan yield 4,45 persen. Penetapan kedua yield ini lebih rendah 25-30 basis points (bps) dari indikasi harga awal yang ditawarkan.

Memanfaatkan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar internasional setelah volatilitas di pasar global mereda, menjadi momentum yang tepat untuk meraup dana dari investor dengan yield yang rendah.

Atas keberhasilan pemerintah menawarkan Green Sukuk ini, Islamic Finance News menganugerahkan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia dan Bahana Sekuritas sebagai Sovereign Deal of The Year dan Deal of The Year Indonesia.  

Ke depan Bahana menilai, dengan fundamental domestik yang semakin kuat, yield surat utang negara masih akan tetap rendah di kisaran 7,6 persen sepanjang 2019, untuk tenor 10 tahun. Bahkan, masih ada ruang penurunan yield lagi lebih dalam, bila beberapa reformasi struktural Indonesia memberi hasil yang lebih cepat dari perkiraan.

(AM)