Senin, 25 Maret 2019 09:22:54 WIB

Ada Sinyal AS Alami Resesi, IHSG Diprediksi Tertekan di Awal Pekan

Imbal hasil atau yield antara obligasi negara AS bertenor tiga bulan dan 10 tahun resmi terbalik atau inverted
Muhammad Ikhsan B
Wall Street (Reuters)

Bareksa.com - Sepanjang perdagangan pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,99 persen ke 6,525. Sektor keuangan (2,27 persen) naik tertinggi sedangkan sektor pertanian (-1,56 persen) turun terdalam akibat koreksi saham berbasis minyak sawit mentah (CPO) setelah rencana Uni Eropa untuk melarang penggunaan CPO untuk biodiesel.

Pergerakan IHSG pekan lalu dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan dan ketidakpastian negosiasi dagang antara AS dan China.


Adapun Bursa Saham Wall Street pada perdagangan Jumat ditutup kompak terkoreksi dengan Dow turun 1,77 persen, S&P minus 1,9 persen dan Nasdaq negatif 2,5 persen dipicu kecemasan pertumbuhan ekonomi global setelah rilis data ekonomi Eropa dan AS yang mengecewakan.

Indeks PMI AS pada bulan Maret mencapai 52.5, di bawah ekspektasi. Imbal hasil surat utang AS mengalami inverted, menyebabkan saham-saham perbankan memimpin pelemahan.

AS Alami Sinyal Resesi, IHSG Diprediksi Tertekan di Awal Pekan

Imbal hasil atau yield antara obligasi negara AS bertenor tiga bulan dan 10 tahun terbalik atau inverted (inversi) Jumat lalu.

Akhir pekan lalu, yield obligasi pemerintah AS tenor tiga bulan berada di 2,45 persen, lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun yang sebesar 2,43 persen. Ini menjadi kejadian pertama sejak Januari 2017

Bursa Saham Jepang dibuka anjlok, Senin (25/3/2019), akibat kekhawatiran akan terjadinya perlambatan ekonomi global setelah bursa Amerika Serikat (AS) terjun bebas akhir pekan lalu. Indeks acuan Nikkei 225 turun hingga 2,13 persen, sementara indeks Topix amblas 2,04 persen di awal perdagangan.

IHSG mampu ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan kemarin berada di level 6,525. Indeks berpeluang untuk kembali bergerak menguat menuju resistance level yang berada di 6,555. MACD yang mengalami golden cross memberikan peluang adanya penguatan. Namun stochastic yang mulai jenuh terhadap aksi beli berpotensi menghambat laju penguatan harga.

PNBP Tumbuh Melambat

Pada bulan Februari 2019, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Pemerintah indonesia hanya tumbuh 1,29 persen (YoY), atau setara dengan Rp 39,91 triliun. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, perlambatan ini didorong oleh turunnya harga komoditas ekspor dunia, disertai dengan penguatan rupiah yang melebihi ekspektasi.

Hal ini tercermin dari turunnya realisasi PNBP Sumber Daya Alam, yang mana mengalami penurunan 1,4 persen dibandingkan Februari 2018.

China akan Percepat Reformasi Struktural

Sehubungan dengan permintaan pemerintah AS untuk adanya reformasi struktural dari pasar keuangan Tiongkok sebagai salah satu syarat adanya progress negosiasi perang dagang, pemerintah China berencana untuk mempercepat implementasi kebijakan tersebut, salah satunya adalah kebijakan pembukaan sektor keuangan.

Menurut Komisi Pengawasan Sektor Keuangan Tiongkok, Fang Xinghai, apabila pemerintah AS tidak senang dengan kecepatan implementasi kebijakan pembukaan sektor keuangan, pihaknya akan berusaha untuk mempercepat proses implementasi kebijakan tersebut. Pada pekan ini direncanakan adanya negosiasi lanjutan antar representatif dagang kedua negara.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.