Jumat, 22 Maret 2019 16:50:03 WIB

Saham BDMN Lompat Karena Tender Offer, Empat Reksadana Ini Ikut Untung

Bank Danamon akan merger dengan BNP karena dibeli investor Jepang
Hanum Kusuma Dewi
Seiring dengan peningkatan harga saham BDMN tersebut, sejumlah reksadana yang memiliki saham ini dalam portofolionya juga ikut terkerek. Di marketplace investasi Bareksa setidaknya ada empat reksadana, terdiri dari satu reksadana saham dan tiga reksadana campuran, yang memiliki saham BDMN dalam portofolio mereka.

Bareksa.com - PT Bank Danamon Tbk (BDMN) akan merger dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BNP) karena keduanya kini dimiliki oleh investor Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc (MUFG). Seiring dengan adanya perubahan pengendali saham di Bank Danamon, MUFJ akan menawarkan pembelian saham BDMN dari publik (tender offer) dengan nilai yang cukup tinggi sehingga harga di pasar pun ikut menguat.

Akibatnya, investor yang telah memegang saham BDMN sejak lama bisa meraup keuntungan dari penjualan pada tender offer ini. Begitu juga reksadana yang memegang saham BDMN sebagai salah satu aset terbesar dalam portofolionya.


Dalam ringkasan rencana penggabungan usaha yang terbit hari ini 22 Maret 2019, rencana merger ini telah mendapat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan. Tertulis dalam ringkasan itu, MUFG akan melakukan tender offer di harga Rp9.590 per saham, lebih tinggi 28 persen daripada harga penilaian independen Rp7.492,58 per saham. Harga ini juga lebih tinggi 21,4 persen dibandingkan harga di pasar Rp7.900 per saham pada 1 Maret 2019, tanggal saat pemegang saham berhak mendapat tender offer.

Di pasar reguler Bursa Efek Indonesia, harga saham BDMN telah berfluktuasi seiring dengan rencana investor Jepang tersebut untuk menjadi pengendali di Bank Danamon. Secara year to date (hingga 21 Maret 2019), harga saham BDMN sudah naik 13,09 persen ke Rp8.575 dibandingkan Rp7.600 pada 28 Desember 2018.

Grafik Pergerakan Harga Saham BDMN di Bursa Efek Indonesia

Sumber: Bareksa.com

Sebagai informasi, MUFG Bank memang akan menguasai 73,8 persen dari total saham Bank Danamon. Upaya untuk mengakuisisi saham itu pun dilakukan dalam tiga tahap dan saat ini sudah dua tahap terselesaikan.

Pada tahap awal, MUFG Bank membeli 19,9 persen terlebih dahulu, sebelum membeli tambahan 20,1 persen dari total saham dengan mengacu pada persetujuan regulator dan pihak lain yang relevan. Tahap pertama ini telah dilakukan pada akhir 2017 lalu.

Pada tahap kedua, MUFG Bank meningkatkan kepemilikannya hingga di atas 40 persen dari total saham. Hal ini sekaligus memberikan kesempatan bagi pemegang saham Danamon lainnya untuk tetap menjadi pemegang saham atau menerima uang tunai dari MUFG Bank.

Lalu pada tahap ketiga, kepemilikan MUFG Bank dalam Danamon ditargetkan mencapai di atas 73,8 persen dari total saham. Tender offer ini merupakan jalan untuk mewujudkan target tersebut. Kemudian, Bank Danamon akan menjadi entitas yang menerima hasil merger, alias tetap tercatat di Bursa dan BNP akan melebur ke dalamnya.

Kinerja Reksadana

Seiring dengan peningkatan harga saham BDMN tersebut, sejumlah reksadana yang memiliki saham ini dalam portofolionya juga ikut terkerek. Di marketplace investasi Bareksa setidaknya ada empat reksadana, terdiri dari satu reksadana saham dan tiga reksadana campuran, yang memiliki saham BDMN dalam portofolio mereka.

Keempat reksadana tersebut adalah Simas Satu dan Simas Satu Prima yang dikelola oleh PT Sinarmas Asset Management, serta Shinhan Balance Fund dan Shinhan Equity Growth yang dikelola oleh PT Shinhan Asset Management Indonesia. Dalam tiga bulan terakhir (hingga 21 Maret 2019), keempat reksadana ini membukukan imbal hasil positif, hingga sebesar 7 persen.

Grafik Perbandingan Return NAB Reksadana Simas Satu, Simas Satu Prima, Shinhan Balance Fund dan Shinhan Equity Growth

Sumber: Bareksa.com

Simas Satu

Reksadana campuran yang sudah meluncur sejak 15 Januari 2001 ini memang memiliki kinerja yang cukup cemerlang untuk jangka panjang. Nilai aktiva bersih per unit (NAB/UP) reksadana ini per 21 Maret 2019 adalah sebesar Rp6.995,74.

Dalam tiga bulan terakhir, memang imbal hasil (return) yang dicatatnya hanya 3,62 persen, dan masih minus dalam sebulan terakhir, tetapi dalam jangka lebih panjang keuntungannya cukup tinggi.

Dalam tiga tahun terakhir (per 21 Maret 2019), Simas Satu sudah membukukan keuntungan 30,38 persen dan selama 10 tahun sudah untung 249,91 persen. Sejak peluncuran (inception) 18 tahun lalu, reksadana ini sudah berkembang 599,57 persen, alias hampir tujuh kali lipat.

Sumber: Bareksa.com

Per Februari 2019, dana kelolaan reksadana ini sudah mencapai Rp287,22 miliar. Bank Kustodian untuk reksadana ini adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Selain memiliki saham BDMN dalam portofolionya, per Februari 2019 reksadana ini juga punya beberapa saham sebagai aset terbesarnya (top holdings), yakni saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan saham PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan nilai investasi awal Rp200.000 saja.

Simas Satu Prima

Reksadana campuran ini meluncur sejak 18 Desember 2012. Per 21 Maret 2019, NAB/UP reksadana ini sebesar Rp1.5066,28.

Kinerja Simas Satu Prima memang mirip dengan kembarannnya. Dalam sebulan terakhir masih minus tetapi dalam tiga bulan sudah untung 3,57 persen.

Dalam jangka lebih panjang, kinerjanya juga cukup baik. Selama tiga tahun terakhir, reksadana ini sudah untung 36,08 persen. Semenjak peluncurannya sekitar enam tahun lalu, reksadana ini mencatat return 56,63 persen.

Sumber: Bareksa.com

Per Februari 2019, dana kelolaan Simas Satu prima mencapai Rp74,44 miliar. Bank Kustodian untuk reksadana ini adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Portofolio Simas Satu Prima memang mirip dengan kembarannya. Selain memiliki BDMN, reksadana ini juga punya saham INKP, MYOR, DMAS dan Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) sebagai top holdings dalam portofolionya.

Reksadana ini juga bisa dibeli di Bareksa dengan nilai investasi awal Rp200.000 saja.

Shinhan Balance Fund

Reksadana campuran yang meluncur sejak 11 Januari 2013 ini memang sedang naik daun karena kinerjanya. Per 21 Maret 2019, NAB/UP reksadana ini sebesar Rp1.732,73.

Reksadana campuran ini dalam tiga bulan terakhir untung 7,02 persen. Dalam tiga tahun, return yang dibukukan reksadana ini sebesar 63,15 persen dan dalam lima tahun imbal hasilnya 81,0 persen.

Sumber: Bareksa.com

Per Februari 2019, Shinhan Balance Fund memiliki dana kelolaan sebesar Rp84,65 miliar. Bank Kustodian untuk reksadana ini adalah PT Bank DBS Indonesia.

Selain saham BDMN, aset terbesar dalam portofolio reksadana ini adalah saham PT Bank Capital Tbk (BACA), saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), Surat Berharga Syariah Negara Seri PBS014, dan saham SMCB.

Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan nilai investasi awal Rp100.000 saja.

Shinhan Equity Growth

Reksadana saham ini sudah meluncur sejak 15 Agustus 2012. Per 21 Maret 2019, NAB/UP reksadana ini sebesar Rp2.261,35.

Dalam tiga bulan terakhir, return reksadana ini sebesar 7,07 persen. Dalam tiga tahun, keuntungannya sudah 68,59 persen. Semenjak peluncurannya sekitar tujuh tahun lalu, pertumbuhan reksadana ini mencapai 126,14 persen.

Sumber: Bareksa.com

Per Februari 2019, Shinhan Equity Growth memiliki dana kelolaan sebesar Rp39,79 miliar. Bank Kustodian untuk reksadana ini adalah PT Bank DBS Indonesia.

Per Februari 2019, selain saham BDMN, aset terbesar dalam portofolio reksadana ini adalah saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), saham PT Astra International Tbk (ASII), saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS).

Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan nilai investasi awal Rp100.000 saja.

Perlu diingat, reksadana saham dan campuran memiliki mayoritas portofolio yang berupa saham sehingga berfluktuasi tinggi dalam jangka waktu dekat. Maka dari itu, kedua jenis reksadana ini disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan sebaiknya untuk investasi jangka panjang.

Untuk kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.