Jumat, 22 Maret 2019 13:46:17 WIB

Apa Makna Dovish, Hawkish, Bullish dan Bearish?

Istilah dovish vs hawkish sering muncul justru saat bank sentral bersikap
Arief Budiman
Sejumlah karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (24/5). Patung sapi adalah simbol bullsih. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Bareksa.com - Selain istilah bullish and bearish, simbol dovish and hawkish juga terdengar cukup familiar di kalangan pelaku pasar keuangan global.

Merpati dan Elang? Yaps! Akar kata istilah dovish versus (vs) hawkish memang diambil dari dua binatang terbang tersebut. Dovish berasal dari kata dove yang artinya burung merpati, sedangkan hawkish berasal dari kata hawk alias si burung elang.


Dua binatang tersebut merepresentasi dua hal berlawanan. Dovish adalah simbol binatang jinak, penurut, dan identik terbang sampai ke titik terginggi. Sebaliknya hawkish adalah simbol “menyerang” dan terbang menukik ke bawah untuk meraih mangsanya.

Apa saja perbedaan utama dovish vs hawkish dengan bullish and bearish? Secara umum, dovish vs hawkish lebih merupakan sinyal, indikator, dan bahkan peringatan (warning) sebelum terjadinya situasi yang disebut bullish atau bahkan bearish. Dengan kata lain, dovish vs hawkish adalah pra, sedangkan bullish and bearish adalah pasca.

Karena itu, istilah dovish vs hawkish sering muncul justru saat bank sentral bersikap. Bisa sebagai hasil pertemuan resmi ataupun dari statement para petinggi regulator tersebut. Sikap bank sentral itu lah yang kemudian diberikan predikat dovish saat misalnya melunak dan cenderung pro pasar, atau sebaliknya dicap hawkish saat keberpihakannya berlawanan dengan harapan pasar.

Sebagai contoh, sebelum bank sentral Amerika Serikat (AS) yang dikenal dengan nama The Federal Reserve (The Fed) itu benar-benar menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2016, sejak pertengahan tahun sebenarnya rencana kenaikan sudah mulai digaungkan.

Pelaku pasar harap-harap cemas setiap The Fed akan menggelar rapat yang biasa disebut Federal Open Meeting Committee (FOMC) itu. Kecenderungan harapan pasar adalah The Fed menunda kenaikan suku bunganya.

Saat petinggi The Fed kemudian memberikan pernyataan bahwa kenaikan suku bunga belum saatnya karena perekonomian masih lesu, saat itu lah pernyataan bank sentral disebut dovish. Biasanya diikuti dengan kenaikan pasar saham dan agresivitas para pelaku pasar meskipun dolar AS (USD) kemudian melemah.

Tapi sebaliknya, jika The Fed menyatakan optimisme perekonomian membaik dan kemungkinan segera didorong dengan kenaikan suku bunga, bank sentral disebut sedang hawkish.

Pelaku pasar cemas dan biasanya pasar saham kemudian terkoreksi. Meskipun sebaliknya dolar AS menguat karena ada potensi pembalikan arah dana investasi ke AS sehingga mata uangnya diburu.

Meski demikian, bukan berarti dovish itu selalu menguntungkan dan hawkish selalu merugikan. Tergantung pada situasi dan posisinya. Karena itu penting bagi para pelaku pasar untuk dapat membaca kedua indikator tersebut.

(KA01/AM)