Senin, 25 Februari 2019 08:51:07 WIB

IHSG Menguat Sepanjang Pekan Lalu , Namun 5 Saham Ini Terbanyak Dilepas Asing

Dalam periode 18 hingga 22 Februari 2019, IHSG tercatat menguat 1,76 persen ditutup di level 6.501
Arief Budiman
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bareksa.com - Sepekan kemarin, pergerakan pasar saham Tanah Air terlihat cukup bervariatif, di mana pada awal pekan sempat mengalami kenaikan signifikan, namun di akhir pekan terlihat adanya aksi ambil untung (profit taking) yang membuat bursa saham domestik terkoreksi.

Dalam periode 18 hingga 22 Februari 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 1,76 persen point to point ditutup di level 6.501,38.


Secara sektoral, seluruhnya kompak berakhir di zona hijau pada pekan kemarin, dengan tiga sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi yaitu pertambangan (5,77 persen), perdagangan (2,81persen), dan infrastruktur (1,81 persen).

Di sisi lain,investor asing terpantau keluar dari saham domestik dengan mencatatkan penjualan bersih (net sell) yang tidak terlalu besar di seluruh pasar sepanjang pekan lalu senilai Rp79,22 miliar.

Alhasil jika sejak awal tahun 2019 hingga saat ini, investor asing masih mengakumulasikan pembelian bersih (net buy) senilai Rp10,89 triliun.

Saham-saham yang paling banyak dilepasoleh investor asing dalamsepekan kemarin :

1. Saham BMRI (Rp626,04 miliar)
2. Saham JPFA (Rp378,86 miliar)
3. Saham BBNI (Rp210,66miliar)
4. Saham KLBF (Rp59,26 miliar)
5. Saham INCO (Rp54,54miliar)

Berbagai Sentimen Pekan Lalu

Sentimen utama yang mewarnai positifnya perdagangan sepanjang pekan lalu adalah makin cerahnya prospek damai dagang Amerika Serikat (AS) - China.

Selama sepekan kemarin, delegasi kedua negara kembali melakukan dialog dagang di Washington. Mengawali pekan, pelaku pasar dibuat gembira dengan tanda-tanda hasil bahwa damai dagang tengah berjalan ke arah yang positif.

Pertanda itu muncul dari cuitan Presiden AS Donald Trump di akun Twitter @realDonaldTrump pada hari Ahad (17/02/2019). Trump menyatakan dialog dagang dengan China pada pekan sebelumnya telah mencapai banyak kemajuan.

"Baru saja bertemu dengan staf saya untuk membahas pertemuan pembahasan kesepakatan dagang dengan China. Kemajuan sudah diraih dalam begitu banyak hal. Negara ini punya potensi yang luar biasa untuk terus tumbuh ke level yang lebih tinggi!" cuit Trump.

Hal senada juga dilontarkan oleh Presiden China, Xi Jinping dalam pidato di Great Hall of the People. "Konsultasi antara dua pihak telah mencapai kemajuan. Saya berharap Anda semua akan melanjutkan upaya ini guna mencapai kesepakatan bersama. Win-win agreement," ujar Xi, seperti dilansir Reuters.

Pada Kamis (21/02/2019), beredar kabar bahwa kedua negara sudah menyepakati nota kesepahaman (MoU), yang membuka jalan menuju damai dagang yang nyata.

Mengutip Reuters, beberapa orang sumber mengungkapkan MoU tersebut setidaknya mencakup enam poin yaitu perlindungan terhadap kekayaan intelektual, perluasan investasi sektor jasa, transfer teknologi, pertanian, nilai tukar, dan halangan non-tarif (non-tariff barrier) di bidang perdagangan.

China juga disebut sepakat untuk semakin mengurangi surplus perdagangan dengan AS. Karena itu, China akan membuat daftar 10 barang yang bisa membuat ketimpangan itu semakin sempit.

Bila hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia kembali lancar, maka aktivitas ekonomi seluruh dunia juga akan merasakan manfaatnya. Tak heran pelaku pasar bisa kembali agresif berinvestasi di negara-negara berkembang.

Sementara dari dalam negeri, sentimen dari dalam negeri sedikit memberi tahanan bagi laju penguatan bursa saham domestik. Pasar sebenarnya sudah memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan di 6 persen pada pengumuman hari Kamis (21/2/2019).

Namun komentar-komentar dari Gubernur BI, Perry Warijo mengenai arah moneter ke depan sudah sangat jauh dari kata hawkish.

Padahal bulan-bulan sebelumnya, kata-kata seperti hawkish, preemptif, front loading, dan ahead the curve sering keluar dan menjadi pertanda bahwa BI akan agresif dan melanjutkan pengetatan moneter.

Selain itu, hasil notulensi rapat The Fed juga membuat dolar bisa melakukan perlawanan yang cukup kuat.

Sebab dalam notulensi yang dirilis pada Kamis (22/02/2019) dini hari lalu, The Fed seakan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga jika ada tekanan inflasi dan perbaikan pertumbuhan ekonomi.

Hal ini membuat investor kembali menilai investasi dalam dolar merupakan investasi yang menarik. Wajar saja, kenaikan suku bunga The Fed bisa membuat imbal hasil investasi dalam dolar menjadi semakin besar.

Analisis Teknikal IHSG


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu terlihat cukup baik dengan berhasil mengalami rebound setelah pada pekan sebelumnya mengalami tekanan cukup berat.

Namun di akhir pekan, terlihat ada penuruan yang dialami IHSG namun masih mampu berakhir di atas level psikologis 6.500 serta bertahan di atas garis middle bollinger band yang mengindikasikan adanya potensi uptrend yang kembali terbuka.

Selain itu, indikator relative strength index (RSI) juga terpantau mulai berbalik arah meskipun saat ini terlihat sedikit turun akibat koreksi yang terjadi di akhir pekan lalu. Namun posisinya yang berada di sekitar area netral mengindikasikan adanya momentum kenaikan yang tengah dibangun.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.