Jumat, 22 Februari 2019 13:17:56 WIB

Segera Launching, Simak Potensi & Tantangan LinkAja di Industri Uang Elektronik

LinkAja dibentuk 7 perusahaan BUMN dan siap bersaing dengan OVO dan GO-PAY
Gita Rossiana
Petugas menunjukkan aplikasi Mbanking Telkomsel yang terinstall di ponsel pintar. Telkomsel merupakan anak usaha dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ANTARA FOTO/Feny Selly.

Bareksa.com - Pada 3 Maret mendatang, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara resmi akan meluncurkan dompet digital LinkAja yang merupakan produk bersama 7 perusahaan BUMN.

Hari ini, TCash yang merupakan produk dompet digital dari PT Telkomsel resmi melebur menjadi LinkAja. Direktur PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), Danu Wicaksana mengatakan layanan keuangan elektronik milik Telkomsel yaitu TCash berubah menjadi LinkAja terhitung sejak tanggal 22 Februari 2019.


"Pelanggan TCash tidak perlu khawatir, karena semua layanan dan fitur yang sebelumnya tersedia pada layanan TCash tetap dapat diakses dan dinikmati pada layanan LinkAja. Terlebih lagi, kami akan mengembangkan berbagai fitur baru untuk LinkAja dari waktu ke waktu," papar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Bareksa, Jumat (22/2/2019).

Finarya merupakan anak usaha Telkomsel yang fokus menangani fintech. Danu juga menegaskan, seperti TCash yang sebelumnya fokus pada program inklusi keuangan, LinkAja juga akan mengakselerasi inklusi keuangan dan mempercepat terbentuknya cashless society.

Namun sebenarnya seperti apa LinkAja yang tiba-tiba muncul di industri pembayaran elektronik tanah air ini?

Senior Vice President Transaction Retail Banking Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Thomas Wahyudi menjelaskan LinkAja akan menghadirkan layanan holistik dengan beragam fitur pembayaran seperti pembayaran tagihan (listrik, PDAM, BPJS, Internet); transaksi di gerai seperti Pertamina hingga pembelian online.

“Meski begitu, kami melihat potensi bisnis dari pengembangan uang elektronik berbasis kartu masih tetap ada, khususnya pada sektor usaha dengan ticket size kecil. Misalnya untuk pembayaran tiket parkir ataupun tiket kendaraan umum. Artinya, fungsi uang elektronik berbasis kartu akan saling komplementer dengan uang elektronik berbasis server atau e-wallet,” papar dia.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Kontruksi dan Jasa Lain Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo menjelaskan LinkAja ini dibentuk oleh 7 perusahaan BUMN yang memiliki saham LinkAja berdasarkan merchant dan customer base yang dimiliki.

"Sesuai kesepakatan bersama, maka Telkomsel memiliki 25 persen, BMRI, BBRI dan BBNI masing-masing 20 persen, BBTN dan Pertamina masing-masing 20 persen dan Jiwasraya 1 persen," kata dia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng menambahkan proses perizinan LinkAja terus berlanjut sampai saat ini. Sehingga dia mengharapkan bisa diluncurkan dalam waktu dekat.

"Permohonan sudah dimasukkan ke BI dan dokumennya sudah dilengkapi dan bisa dilengkapi dalam waktu dekat," kata dia.

Persaingan Usaha

Hadirnya LinkAja di industri pembayaran elektronik, Menurut Gatot, diharapkan bisa berkompetisi di industri pembayaran elektronik. Sebab potensi pasar pembayaran elektronik di Indonesia masih cukup besar.

"Kuenya masih besar kan," ucap dia.

Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Aji Satria Suleiman juga menilai positif atas hadirnya LinkAja di industri pembayaran elektronik tanah air.

"Semakin banyak persaingan semakin bagus karena konsumen jadi banyak pilihan," kata dia.

Bahkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sebelumnya sudah memiliki dompet digital, Sakuku dan uang elektronik, Flazz juga tetap menanggapi positif kehadiran LinkAja.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja, mengatakan potensi pembayaran elektronik ini cukup besar dengan frekuensi transaksi 25 juta sehari.

"Di pasar bebas, siapapun bisa bikin layanan payment," kata dia.

Bagi bank, menurut Jahja, kehadiran fintech payment juga bisa memberikan dampak positif karena mengurangi kebutuhan uang tunai.

"Kalau layanan fintech payment banyak akan mengurangi kebutuhan uang tunai karena uang tunai itu beban. Adanya payment platform, maka kebutuhan uang tunai akan menurun," ungkap dia.

Kendati demikian, Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira berharap agar LinkAja bisa mendorong terjadinya inklusi keuangan dan tidak hanya terfokus pada transaksi di daerah perkotaan.

"Jangan hanya main di perkotaan karena sudah dimasuki pemain GO-PAY dan OVO, misi BUMN kan agent of development harusnya masuk juga ke desa-desa untk mendorong inklusi keuangan di sana," kata dia.

(AM)