Jumat, 11 Januari 2019 03:05:28 WIB

The Fed akan Cenderung Wait and See, Kemenkeu akan Rilis 10 SBN Ritel Tahun Ini

Inflasi China melambat dan kegiatan usaha Indonesia melambat di kuartal IV 2018
Muhammad Ikhsan B
Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve, Jerome Powell. (Federal Reserve/Flickr)

Bareksa.com - Mengakhiri pekan kedua di tahun 2019, berikut beberapa perkembangan penting seputar kondisi makro ekonomi baik domestik maupun global :

Inflasi China Melambat


Pada 2018, inflasi Tiongkok mengalami perlambatan hingga mencapai titik inflasi terendah sejak 2 tahun terakhir. Inflasi China pada Desember 2018 tercatat berada di level 1,9 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya 2,2 persen maupun konsnsus pengamat 2,1 persen.

Perlambatan inflasi ini menjadi bukti lain terkait adanya perlambatan pertumbuhan konsumsi domestik Tiongkok, dan diperkirakan akan mendorong otoritas moneter Tiongkok untuk menerapkan kebijakan moneter yang cenderung longgar dalam waktu dekat.

The Fed Cenderung Bersabar Dalam Penerapan Kebijakan Moneter

The Fed kembali menyatakan akan cenderung menerapkan kebijakan moneter ‘wait and see’ pada 2019 ini. Diungkapkan oleh kepala The Fed, Jerome Powell, The Fed cenderung akan menunggu stabilnya inflasi sebelum kembali menaikan tingkat suku bunga.

Ia juga menyatakan proyeksi kenaikan 2 kali tingkat suku bunga The Fed pada 2019 tidaklah tepat karena The Fed cenderung akan mempertimbangkan kondisi data ekonomi AS sebelum menaikan tingkat suku bunga sehingga tidak ada kepastian kenaikan tingkat suku bunga pada tahun ini.

Kegiatan Usaha Melambat di Kuartal IV 2018

Pada kuartal IV 2018, kinerja manufaktur mengalami perlambatan yang ditandai oleh menurunnya PMI Index Bank Indonesia menjadi 51,92, setelah pada kuartal III 2018 berada pada level 52,02.

Meskipun sedikit melambat, Bank Indonesia (BI) menyatakan sektor manufaktur Indonesia masih berada di posisi ekspansi karena berada di atas level 50. BI juga menyatakan indeks PMI BI ini sejalan dengan Nikkei PMI Indonesia yang menurun hingga ke level 50,7 pada kuartal IV 2018.

Kemenkeu Targetkan Kuota Nasional SBR005 Sampai Rp5 Triliun

Direktur Surat Utang Negara, DJPPR, Kementerian Keuangan RI Loto S. Ginting menyampaikan, keberadaan SBR005 ini sejalan dengan perluasan basis investor dalam negeri serta mendukung terwujudnya keuangan inklusif serta memenuhi sebagian pembiayaan APBN 2019.

“Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel akan dilaksanakan sebanyak sepuluh kali selama tahun 2019,” ujar Loto di Jakarta.

Loto mengungkapkan, penerbitan SBN ritel tahun ini akan dalam bentuk konvensional maupun syariah. Adapun SBR005 merupakan instrumen SBN ritel pertama yang ditawarkan pemerintah kepada masyarakat pada tahun ini dengan target penerbitan pertama Rp2 triliun dan bisa ditambah (upsize) hingga Rp5 triliun.

"Kuota nasional untuk SBR005 maksimal Rp5 triliun," ujarnya.

Namun, perlu diketahui, bila target penerbitan sudah tercapai hingga nilai maksimal (kuota nasional) Rp5 triliun meskipun masa penawaran belum berakhir, penjualan SBR005 bisa langsung ditutup. Karena itu, investor diharapkan untuk segera memesan di awal karena yang memesan lebih dulu akan dilayani lebih dahulu (first come first serve).

(KA02/AM)