Rabu, 13 September 2017 15:25:40 WIB

Potensi Upside Mulai Terbatas, Investor Disarankan Lirik Obligasi Korporasi

Corporate bond selalu memberikan yield lebih tinggi
Rausyan Fikry
Penawaran umun berkelanjutan untuk obligasi (ANTARA FOTO/HO)

Bareksa.com – Potensi upside tingkat pengembalian investasi (yield) dari pasar surat utang saat ini cenderung terbatas. Yield surat utang negara dengan tenor 10 tahun sampai akhir tahun ini diperkirakan sebesar 6,5 persen.

Vice President Head Fixed Income RHB Asset Management Indonesia, Liliana Natalia Kurniawan, mengatakan investor pendapatan tetap (fixed income) perlu mencari instrumen lain apabila ingin mencapai target yield tahun ini.

Namun, apabila institusi seperti dana pensiun (Dapen) masih perlu memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait persentase surat utang. Dia merekomendasikan agar Dapen mulai melirik obligasi korporasi di sektor infrastruktur.

Di sisa tahun ini, bakal ada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) sektor infrasturktur yang bakal menerbitkan obligasi. Beberapa BUMN tersebut di antaranya, PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

“Tinggal investor memilih rating mana yang lebih nyaman,” jelasnya di Jakarta, Rabu, 13 September 2017. (Baca juga : Kemenkeu Tunjuk Bareksa dan 8 Lembaga Pasarkan SBN Ritel Secara Online)

Natalia menjelaskan, obligasi korporasi (corporate bond) selalu memberikan yield lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi negara (corporate bond). Namun, likuiditas perdangan corporate bond cenderung rendah, artinya jarang sekali ditransaksikan investor.

Dia mengatakan bahwa jika memilih corporate bond, Dapen cenderung bakal menyimpan surat utang tersebut dalam jangka waktu panjang.

Dengan tiga bulan tersisa tahun ini, dia menilai investor bisa segera mulai mengambil posisi di pasar surat utang untuk mencapai target yield tahun depan.

Oversubscribed Hingga Enam Kali

Natalia memprediksi obligasi korporasi menjelang akhir tahun ini akan banyak diburu investor. Dalam beberapa waktu terakhir, penerbitan obligasi korporasi selalu mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).

Bahkan, oversubscribed obligasi korporasi di Indonesia mencapai tiga hingga enam kali. “Obligasi korporasi jarang oversubscribed sampai sebanyak itu di primary issuance,” kata Natalia. (Lihat juga : ORI 014 akan Terbit di Tengah Penurunan Suku Bunga, Akankah Kupon Terendah?)

Banyak dana asing masuk (capital inflow) masuk ke government bond tetapi tidak terserap di lelang. Sehingga banyak dana yang masuk ke corporate bond, apalagi jika peringkat (rating) surat utangnya AAA dan memiliiki equivalen rating internasional.

Sementara untuk durasi, secara portofolio RHB Asset merekomendasikan short term tenor. Jika bisa mendapatkan surat utang off the run benchmark lebih bagus lagi, karena off the run cenderung miss pricing dibandingan dengan on the run bond.

“Tapi kalo untuk trading lebih baik on the run karena lebih likuid,” ujar dia.

Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) RHB Asset Maangement, Michael Chang menuturkan bahwa risiko investasi di Amerika Serikat (AS) sekarang turun. Hal itu terjadi karena faktor geopolitik dan turunnya inflasi.

“Dalam jangka panjang, faktor ini bisa menjadi bullish pasar surat utang,” tuturnya. (Baca juga : Jadi Yang Pertama, Bank Permata Layani Jual Beli Obligasi via Internet Banking)