Rabu, 13 September 2017 10:30:00 WIB

Bunga Kredit Ditarget Turun Jadi Satu Digit, LPS Minta Dilakukan Bertahap

Perbankan menilai suku bunga kredit satu digit harus dilihat sesuai segmentasinya
Abdul Malik
Pengunjung melihat kain khas Bali produksi Industri Kecil Menengah (IKM)/Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kreatif 2016 di Denpasar. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Bareksa.com - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai keinginan pemerintah untuk menurunkan suku bunga menjadi satu digit di semua sektor kredit harus dilakukan secara bertahap. Sebab permasalahan suku bunga kredit perbankan merupakan masalah yang kompleks, terkait tingkat inflasi, tingkat efisiensi intermediasi perbankan serta defisit neraca berjalan.

Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS, Doddy Ariefianto, menjelaskan apabila dilihat dari segmentasi kredit, saat ini sudah ada kredit yang memiliki suku bunga satu digit. Namun, untuk segmen kredit yang lain masih berada di dua digit.

"Diperlukan roadmap yang jelas untuk mengidentifikasi setiap hambatan dalam upaya penurunan suku bunga kredit," kata Doddy dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan yang diterbitkan LPS di Jakarta, dikutip 13 September 2017.

Apalagi, berdasarkan tren suku bunga bank benchmark untuk deposito rupiah yang dipantau LPS menunjukkan penurunan yang terbatas secara rata-rata sampai dengan periode akhir Agustus 2017, yakni berada di rentang 5,01-6,75 persen. Sementara suku bunga pasar deposito valuta asing yang dipantau memperlihatkan kenaikan terbatas, yakni berada di kisaran 0,29-0,74 persen.

"Kami melihat adanya proyek pembangunan infrastruktur menjadi pemicu tingginya kebutuhan modal kerja atau investasi dalam bentuk impor sehingga kebutuhan valas meningkat," kata dia.

Simpanan Valas Meningkat

Kendati demikian, pertumbuhan simpanan valas juga mengalami kenaikan. Kenaikan ini signifikan terjadi pada tahun lalu, saat berakhirnya program amnesti pajak. Doddy melanjutkan, keputusan BI menurunkan suku bunga acuan di tengah global political risk dan kenaikan Fed Fund Rate diharapkan bisa menopang laju pertumbuhan kredit.

Di sisi lain, Doddy juga berharap kebijakan BI bisa diikuti oleh peningkatan penyerapan belanja negara sehingga bisa mendongkrak daya beli masyarakat. "Bagaimanapun konsumsi rumah tangga memilili kontribusi besar terhadap laju pertumbuhan," ungkapnya.

Dari sisi likuiditas, Doddy menilai masih cukup memadai karena penurunan suku bunga acuan dan suku bunga simpanan serta kebijakan giro wajib minimum averaging. Dengan adanya hal tersebut, diharapkan ruang bank untuk menurunkan biaya daya dan suku bunga kredit semakin besar.

"Yang mungkin masih perlu dibenahi adalah komponen kredit dalam perhitungan suku bunga kredit sehingga suku bunga kredit bisa lebih cepat turunnya," katanya.

Suku Bunga Berdasarkan Segmentasi

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Suprajarto, menjelaskan untuk bisa mencapai suku bunga kredit satu digit harus dilihat terlebih dahulu segmentasinya. Di BRI, menurut Suprajarto, pihaknya berencana untuk menurunkan suku bunga kredit usaha kecil menengah (UKM) ke arah satu digit. Sementara untuk suku bunga kredit korporasi masih melihat perkembangan.

“Untuk korporasi tertentu sudah ada yang satu digit, tetapi ada juga yang belum tergantung industrinya. Kalau masih berisiko tidak mungkin jadi satu digit,” ungkap dia.

Direktur Retail Banking PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Tardi, mengungkapkan pada September 2017, pihaknya berencana menurunkan suku bunga ritel sebesar 25 basis poin. Hal ini mengikuti penurunan suku bunga acuan BI. (K09)